
Judul : The Kreutzer Sonata
No. ISBN : 9786028252232
Penulis : Leo Tolstoy
Penerbit : Jalasutra
Tanggal terbit : November - 2009
Jumlah Halaman : 160
Kategori : Sastra
Harga: Rp. 26.000

Judul Buku : Memori, Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2012
Tebal Buku : 304 Halaman
ISBN : 979-780-562-x
Cinta itu egois, sayangku. Dia tidak akan mau berbagi. Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia, cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman. Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.
*
Yay!! Setelah sekian lama vakum membaca, akhirnya saya berhasil menamatkan buku ini dengan senyum terembang di bibir. :D
Bercerita tentang Mahoni, seorang arsitekur muda Virginia yang harus rela mengubur impiannya karena dihadapkan pada kenyataan buruk, ayah meninggal dan harus kembali ke Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, masalah perlahan-lahan datang seolah membuatnya terikat. Tanpa diduga, Mahoni harus rela mengurus adik tirinya, Sigi. Bertemu dengan teman sekaligus cinta masa lalunya, Simon. Dan mengorbankan karier pekerjaannya di Virginia.
Novel dengan drama sederhana ini dikemas apik oleh Mbak Windry dengan porsi yang tepat. Seperti benar-benar terencana matang. Tentang adegan-adegan masa lalu yang tidak membingungkan, novel ini mengalir apa adanya. Saya suka sekali cara pendeskripsian mbak Windry dengan detail-detail kecil, penuturan yang tenang, ritme yang tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Itu membuat saya menikmati setiap kalimat-kalimat yang beliau tulis.
Cara Mbak Windry menulis mampu membuat saya membayangkan setiap detail yang berkaitan dengan dunia arsitek -yang memang saya sukai, penjelasan-penjelasan tentang siapa itu Gehry atau Koolhas, tentang Konte, tentang desain desain kecil berkaitan dengan eksterior dan interior yang diramu manis tidak menggurui. Karena nyatanya beliau memang seorang arsitek. :D
Karakter yang kuat, real, jujur dan konsisten membuat saya dengan mudah bisa berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Mbak Windry. Bagian favorit saya adalah, saat Sigi rela berhujan-hujanan demi menjemput Mahoni yang saat itu sudah diantar pulang. Itu yang membuat saya jatuh cinta pada Sigi. :D
Novel ini memberikan pelajaran, bahwa sedingin dan sekeras apapun hati seseorang karena masa lalu yang kelam, pasti akan ada setitik kehangatan di dasar hatinya untuk memaafkan. Mungkin itu yang disebut cinta.
Kekurangannya? Saya tidak menemukan sesuatu yang 'cacat' di novel ini. Dan rasanya, Mbak Windry akan jadi penulis favorit saya setelah ini :)
Jakarta, Desember 2012
Hujan masih meninggalkan gerimis kecil-kecil ketika taksi yang kutumpangi berhenti tepat di pelataran parkir stasiun itu. Aku merapatkan sweater yang sejak tadi kukenakan, merapikan syal agar menutup leherku, kemudian berlalu ke peron dengan kecipak-kecipak air yang tertinggal di sepatuku. Jadwal keberangkatan kereta masih lima belas menit lagi. Namun aku memilih untuk datang lebih awal agar tidak terjebak dalam kemacetan Jakarta. Kabut pelan menyusup seperti kepulan asap kopi, mengirimkan hawa dingin yang seketika mampu membuatku meremang.
Aku duduk di sebuah kursi tunggu, memeriksa kembali tiket keretaku dan seketika mataku tertumbuk pada nama stasiun yang tertera di kertas biru laut itu.
Ah...
*
Lelaki itu berkacamata dan menyilangkan tangan di depan dada. Matanya layu dan memiliki lingkar kehitaman yang jelas terlihat. Tempat duduknya yang hanya berjarak dua depa di depanku membuatnya leluasa menatapku sedari tadi, sejak kami sama-sama menaiki kereta yang sama.
Sepeninggal Ayah, aku memutuskan untuk melepas semua kontrak kerja di Oslo dan memilih berkarir di Jakarta karena alasan-alasan tertentu. Seorang mantan rekan kerja Ayah yang mengenal baik keluarga kami merekomendasikanku untuk bergabung di perusahaan yang ia kelola. Singkat kata, aku menerima tawaran itu meski dengan terpaksa. Dan setahuku, lelaki itu adalah anggota baru yang resmi bergabung beberapa minggu yang lalu di perusahaan tempatku bekerja. Itu artinya kami bekerja di tempat yang sama.
Aku sendiri tidak mengingat namanya meski sebelumnya seorang rekan pernah memperkenalkan dia padaku saat jam makan siang. Di tempat kerja, dia terlihat aneh dan terkucilkan. Kerap kali melamun dan senang mengasingkan diri. Dia juga tidak banyak bicara.
Aku menutup bacaanku dan memilih mendengarkan musik lewat sepasang headset yang tersambung dari ponsel. Sungguh, membaca di dalam kereta jurusan Jakarta-Bogor di jam-jam pulang kerja itu bukanlah pilihan yang tepat.
Ia masih menatapku dengan sepasang matanya yang itu. Aku melempar pandang dan beruntung karena kereta berhenti tepat di stasiun tujuanku. Aku mempercepat langkahku, sementara hujan lebat membuat dinding-dinding stasiun bergemuruh.
Tanpa memedulikan apapun, aku menerobos hujan dengan sepatu hak tinggi yang membuatku nyaris terpeleset.
"Tunggu!"
"Anyelir, tunggu!"
Aku menoleh.. dan mendapati lelaki itu berlari mengejarku. Ia menutup kepalanya dengan lengan yang telah basah. Napasnya terengah saat sampai di dekatku dan kacamatanya penuh embun akibat hujan.
"Namamu Anyelir kan? Maaf, jika aku salah menyebut namamu. Aku tidak pandai mengingat nama orang," katanya dengan suara serak dan berat.
Dia mengingat namaku.
"Aku buru-buru," kataku, berusaha menghindarinya. Berusaha agar dia tidak terlampau jauh memantau. Ya, aku merasa dia memantauku. Agak berlebihan memang. Tapi apa namanya kalau bukan memantau?
"Kau meninggalkan ini di kereta." Dia lantas menyerahkan buku yang tadinya ingin kubaca di kereta. Astaga! Rupanya aku lupa memasukkan buku itu ke dalam tas.
"Jaga dirimu. Sampai ketemu besok."
Aku tidak mengucapkan apa-apa. Lelaki itu menyesap rokok yang tergamit di jarinya, kemudian berlalu bersama hujan yang menderas.
November, 2012
"Apa kau mengenal ayah?" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Arne yang biru dan gemetar. Ia menatapku dengan selidik, mencoba mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang ia karang sendiri. Dahinya yang sepucat pualam berkerut-kerut, membuatnya terlihat lebih tua dari usia aslinya.
Aku diam beberapa saat dan ia nampak frustasi. Disesapnya sedikit kopi yang tersedia di meja. Barangkali hanya itu yang membuatnya nampak hangat di tengah gigil dan kebekuan suasana yang tercipta. Ini sama sekali di luar dugaan. Melihat mata Arne yang hitam dan kuyu seperti membuka lagi masa lalu. Tentang gadis kecil yang kerapkali kudapati menyendiri di halaman belakang rumah dengan kuas-kuas bekas dan cat minyak juga serbuk-serbuk kayu.
Aku gila. Atau barangkali masa lalu yang memang membutakan? Benar-benar tak terpikir sebelumnya jika ia adalah salah satu penghuni masa laluku. Tidak, sebelum semua tumpah ruah secara bersama dalam satu waktu yang sama. Seperti hujan yang kemudian tumpah lantas membasahi kami. Masa lalu pun pada akhirnya membuat kami menggigil dengan pikiran masing-masing, mencipta kebekuan yang -bahkan, aku maupun Arne tidak mengerti bagaimana mengembalikan suasana senetral biasanya. Sebelum insiden pertemuan di makam ini terjadi.
"Aku tidak begitu mengenalnya," aku berbohong. Lebih tepatnya, aku begitu mengenal lelaki itu. Sangat mengenalnya bahkan.
Mata Arne semakin menyipit. "Bagaimana bisa kau ada di sini? Apa hubunganmu dengan Ayah?"
Aku tidak berani menatap matanya. Pun menyangkal kenyataan yang memang benar adanya. Aku mengenal lelaki yang disebut Ayah itu, dan menyangkal kenyataan itu semua adalah dusta yang menyakitkan. Aku diam. Sialnya, aku terlalu banyak meneguk kopiku hingga tak sadar jika cairan di dalam mug itu sudah tidak bersisa.
"Hanya kebetulan, Arn. Aku...," kata-kata ini seperti sebongkah batu beku. "Dia pelukis yang hebat. Aku mengagumi karyanya. Sebatas itu."
Sungguh, mata kuyu itu tak ubahnya sebilah belati yang kemudian menghunus dadaku. Sakit. Kebohongan ini menyakitkan.
Arne diam. Ia menopang dagunya, seperti mengabaikan kegugupanku meski aku tahu ia sangat mencurigai gelagatku. Ia membuang pandang ke luar jendela, mengamati butiran hujan yang membentuk uap-uap tipis yang memantulkan wajahnya. Matanya nanar, seperti ada lorong pekat yang membuatnya menggigil. Kesepian dan terasing. Sekejap, aku melihat pupilnya berkaca tanpa air mata. Ia tersenyum hambar dalam kebekuan.
"Arn..." kugenggam tangannya yang serupa bongkahan salju. Tangan yang pucat dan ringkih. Membuatnya terkesiap. "Aku turut berduka. Tapi percayalah... aku masih sahabatmu yang dulu. Kau tidak perlu merasa kesepian." Barangkali hanya itu yang bisa kukatakan untuk membuatnya sedikit merasa lebih baik.
Ia tersenyum lantas membalas genggaman tanganku. "Thanks Len. Aku hanya merasa bingung dengan ini semua," katanya.
Aku tahu.
Aku membiarkan kepalanya mendarat di dadaku. Ia terisak. Dan.bulir hangat itu pelan membasahi peegelangan tanganku. Rambut Arne yang basah dan lembab samar-samar beraroma cytrus. Aku mengelusnya. Dan dadaku merasa hangat meski ada sedikit sesak yang susah dijabarkan.
Selanjutnya, aku harus bertemu Pujia untuk membicarakan semuanya.
Jakarta, November 2012
Sesuatu yang menggembirakan sekaligus mengherankan adalah aku bertemu dengan Len, di makam Ayahku.
Musim hujan di Jakarta tidak sedingin musim hujan di Oslo. Tapi entah kenapa, gerimis tipis yang saat itu mengguyur gundukan tanah pemakaman Ayah yang masih merah, mampu membuatku menggigil sendiri.
Tidak kupungkiri, meski aku mempunyai masa lalu yang suram bersama Ayah, aku merasa kehilangan atas kepergiannya. Tangisku tumpah sedari tadi. Seperti butiran hujan yang membuat mataku sembab.
Len membeku di sebelah pohon kamboja yang belum terlalu tinggi. Kami sama-sama terkejut, tentu saja. Namun ia memiliki reaksi normal sebagaimana manusia pada umumnya. Seperti patung, ia menatapku tanpa suara. Wajahnya pucat dan berkabung. Suasana suram lain nampak jelas terlihat dari pakaian serba hitam yang ia kenakan.
Aku tidak mengerti kenapa waktu mempertemukanku dengannya di sini, di makam Ayahku.
"Arne.. Kau? Apa ini kebetulan?" katanya dengan suara tercekat di tenggorokan. Len menginjak daun-daun kamboja yang mengering saat menghampiriku, menimbulkan suara nyaring di telingaku. Ia bersimpuh. Mengelus pundakku dengan tangannya yang hangat, tangan yang biasa ia gunakan untuk mengelus kepalaku. "Aku sama sekali tidak mengerti," katanya kemudian, setelah memastikan bahwa wanita yang ia temui benar-benar aku.
Len menatapku dengan sorot penuh tanda tanya, mencoba menusuri kebetulan apa yang sebenarnya menghantui kami berdua lewat mataku yang tertutup kacamata hitam. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku tidak mengerti." Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan. Len memaklumi. Aku cukup terguncang dengan peristiwa mendadak ini. Pulang ke Indonesia, Ayah meninggal, dan bertemu teman baik di pemakaman yang sama. Ini semua di luar batas dugaanku. Dan mungkin juga di luar batas dugaan Len.
"Sepertinya ini bukan tempat yang tepat untuk kita bicara."
Gerimis belum reda ketika Len akhirnya mengajakku ke sebuah kedai kopi di kawasan padat penduduk di daerah Kemang.
Len tampak sibuk menyesap kopi yang ia pesan, sementara aku masih diam mematung. "Kapan kau berniat kembali ke Oslo?"
"Aku belum memikirkannya. Jika bisa secepatnya, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sini."
Pembicaraan ini terkesan kaku. Len seperti orang asing yang barusaja kukenal. Yang tiba-tiba mengetahui masa laluku dalam hitungan detik.
"Kau kenal Ayah?" tanyaku. Ekspresi Len langsung berubah ciut. Ia menatapku dengan dahi berkerut.
"Ayah?" Len justru kembali melempar pertanyaan itu kembali padaku. Aku mengangguk, mencipta hening. Hujan mulai membruncah.
"Sepertinya suhu ruangan ini terlalu dingin," kata Len, seperti mengalihkan pembicaraan. Dan memang benar, aku menangkap gelagat tak nyaman yang tiba-tiba membuatnya salah tingkah. Len tampak kedinginan, entah oleh sebab hujan, suhu ruangan, ataupun tatapanku.
Jakarta, September 2012