Selasa, April 09, 2013
- Author name:
- ao_shy
- Publish date:
- 4/09/2013 12:44:00 AM
- Discussion:
- 1 comment
- Categories:
- uncategorized
Selasa, Maret 05, 2013
- Author name:
- ao_shy
- Publish date:
- 3/05/2013 09:36:00 AM
- Discussion:
- No comments
Kamis, Desember 20, 2012

Judul : The Kreutzer Sonata
No. ISBN : 9786028252232
Penulis : Leo Tolstoy
Penerbit : Jalasutra
Tanggal terbit : November - 2009
Jumlah Halaman : 160
Kategori : Sastra
Harga: Rp. 26.000
- Author name:
- ao_shy
- Publish date:
- 12/20/2012 01:05:00 PM
- Discussion:
- No comments
- Categories:
- Book
Review
Judul Buku : Memori, Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2012
Tebal Buku : 304 Halaman
ISBN : 979-780-562-x
Cinta itu egois, sayangku. Dia tidak akan mau berbagi. Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia, cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman. Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.
*
Yay!! Setelah sekian lama vakum membaca, akhirnya saya berhasil menamatkan buku ini dengan senyum terembang di bibir. :D
Bercerita tentang Mahoni, seorang arsitekur muda Virginia yang harus rela mengubur impiannya karena dihadapkan pada kenyataan buruk, ayah meninggal dan harus kembali ke Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, masalah perlahan-lahan datang seolah membuatnya terikat. Tanpa diduga, Mahoni harus rela mengurus adik tirinya, Sigi. Bertemu dengan teman sekaligus cinta masa lalunya, Simon. Dan mengorbankan karier pekerjaannya di Virginia.
Novel dengan drama sederhana ini dikemas apik oleh Mbak Windry dengan porsi yang tepat. Seperti benar-benar terencana matang. Tentang adegan-adegan masa lalu yang tidak membingungkan, novel ini mengalir apa adanya. Saya suka sekali cara pendeskripsian mbak Windry dengan detail-detail kecil, penuturan yang tenang, ritme yang tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Itu membuat saya menikmati setiap kalimat-kalimat yang beliau tulis.
Cara Mbak Windry menulis mampu membuat saya membayangkan setiap detail yang berkaitan dengan dunia arsitek -yang memang saya sukai, penjelasan-penjelasan tentang siapa itu Gehry atau Koolhas, tentang Konte, tentang desain desain kecil berkaitan dengan eksterior dan interior yang diramu manis tidak menggurui. Karena nyatanya beliau memang seorang arsitek. :D
Karakter yang kuat, real, jujur dan konsisten membuat saya dengan mudah bisa berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Mbak Windry. Bagian favorit saya adalah, saat Sigi rela berhujan-hujanan demi menjemput Mahoni yang saat itu sudah diantar pulang. Itu yang membuat saya jatuh cinta pada Sigi. :D
Novel ini memberikan pelajaran, bahwa sedingin dan sekeras apapun hati seseorang karena masa lalu yang kelam, pasti akan ada setitik kehangatan di dasar hatinya untuk memaafkan. Mungkin itu yang disebut cinta.
Kekurangannya? Saya tidak menemukan sesuatu yang 'cacat' di novel ini. Dan rasanya, Mbak Windry akan jadi penulis favorit saya setelah ini :)
Jakarta, Desember 2012
- Author name:
- ao_shy
- Publish date:
- 12/20/2012 12:09:00 PM
- Discussion:
- No comments
- Categories:
- Book
Review
Rabu, November 14, 2012
Hujan masih meninggalkan gerimis kecil-kecil ketika taksi yang kutumpangi berhenti tepat di pelataran parkir stasiun itu. Aku merapatkan sweater yang sejak tadi kukenakan, merapikan syal agar menutup leherku, kemudian berlalu ke peron dengan kecipak-kecipak air yang tertinggal di sepatuku. Jadwal keberangkatan kereta masih lima belas menit lagi. Namun aku memilih untuk datang lebih awal agar tidak terjebak dalam kemacetan Jakarta. Kabut pelan menyusup seperti kepulan asap kopi, mengirimkan hawa dingin yang seketika mampu membuatku meremang.
Aku duduk di sebuah kursi tunggu, memeriksa kembali tiket keretaku dan seketika mataku tertumbuk pada nama stasiun yang tertera di kertas biru laut itu.
Ah...
*
Lelaki itu berkacamata dan menyilangkan tangan di depan dada. Matanya layu dan memiliki lingkar kehitaman yang jelas terlihat. Tempat duduknya yang hanya berjarak dua depa di depanku membuatnya leluasa menatapku sedari tadi, sejak kami sama-sama menaiki kereta yang sama.
Sepeninggal Ayah, aku memutuskan untuk melepas semua kontrak kerja di Oslo dan memilih berkarir di Jakarta karena alasan-alasan tertentu. Seorang mantan rekan kerja Ayah yang mengenal baik keluarga kami merekomendasikanku untuk bergabung di perusahaan yang ia kelola. Singkat kata, aku menerima tawaran itu meski dengan terpaksa. Dan setahuku, lelaki itu adalah anggota baru yang resmi bergabung beberapa minggu yang lalu di perusahaan tempatku bekerja. Itu artinya kami bekerja di tempat yang sama.
Aku sendiri tidak mengingat namanya meski sebelumnya seorang rekan pernah memperkenalkan dia padaku saat jam makan siang. Di tempat kerja, dia terlihat aneh dan terkucilkan. Kerap kali melamun dan senang mengasingkan diri. Dia juga tidak banyak bicara.
Aku menutup bacaanku dan memilih mendengarkan musik lewat sepasang headset yang tersambung dari ponsel. Sungguh, membaca di dalam kereta jurusan Jakarta-Bogor di jam-jam pulang kerja itu bukanlah pilihan yang tepat.
Ia masih menatapku dengan sepasang matanya yang itu. Aku melempar pandang dan beruntung karena kereta berhenti tepat di stasiun tujuanku. Aku mempercepat langkahku, sementara hujan lebat membuat dinding-dinding stasiun bergemuruh.
Tanpa memedulikan apapun, aku menerobos hujan dengan sepatu hak tinggi yang membuatku nyaris terpeleset.
"Tunggu!"
"Anyelir, tunggu!"
Aku menoleh.. dan mendapati lelaki itu berlari mengejarku. Ia menutup kepalanya dengan lengan yang telah basah. Napasnya terengah saat sampai di dekatku dan kacamatanya penuh embun akibat hujan.
"Namamu Anyelir kan? Maaf, jika aku salah menyebut namamu. Aku tidak pandai mengingat nama orang," katanya dengan suara serak dan berat.
Dia mengingat namaku.
"Aku buru-buru," kataku, berusaha menghindarinya. Berusaha agar dia tidak terlampau jauh memantau. Ya, aku merasa dia memantauku. Agak berlebihan memang. Tapi apa namanya kalau bukan memantau?
"Kau meninggalkan ini di kereta." Dia lantas menyerahkan buku yang tadinya ingin kubaca di kereta. Astaga! Rupanya aku lupa memasukkan buku itu ke dalam tas.
"Jaga dirimu. Sampai ketemu besok."
Aku tidak mengucapkan apa-apa. Lelaki itu menyesap rokok yang tergamit di jarinya, kemudian berlalu bersama hujan yang menderas.
November, 2012
- Author name:
- ao_shy
- Publish date:
- 11/14/2012 03:22:00 PM
- Discussion:
- No comments
- Categories:
- Arne
fiksi
