Rabu, Agustus 29, 2012

Dari bandara Gardermoen, Oslo,  penerbangan ke Indonesia mengalami dua kali transit di London dan Hongkong. Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih dua puluh jam akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di Soekarno-Hatta. Lagi.

Hujan menyambut kedatanganku kali ini, menawarkan suasana sendu yang sudah membekas sejak aku di Norwegia. Taxi yang kutumpangi melaju lambat karena macet di seputaran Slipi. Tidak banyak yang kukatakan. Hanya terdengar sayup-sayup suara klakson yang beradu dengan gemericik hujan di luar sana. Jakarta masih semacet biasanya. Kali ini taxi membisu, menuju tempat yang jauh ke selatan Jakarta. Kemang. Ke rumah yang mulai terasa asing dan dingin.

*

Aku memutuskan pulang lebih lambat dari kepulangan Pujia ke Indonesia  Setelah pertemuan di kedai sushi beberapa minggu yang lalu, kami kembali bercakap lewat telepon. Ia hanya mengabarkan jika Ayah mengalami sakit yang cukup serius, sementara aku tidak membicarakan perihal surat Bibi Marie yang membuatku mengetahui kabar itu sebelum Pujia menelfon. Bibi Marie adalah saudara Ibuku yang menetap di Cirebon. Semenjak ibu meninggal dan semenjak aku menghilang ke luar negeri, aku seperti menghilang dari jejak keluarga besarku di Jakarta. Aku merasa keputusan untuk mengubur kenangan di Norwegia adalah keputusan yang tepat. Tidak ada yang perlu diingat, keluarga yang seolah nampak baik-baik saja meski pada akhirnya terlihat berantakan. Masa lalu yang tidak lagi sama serta banyak lagi kenangan yang membuat aku terluka.

Bibi Marie menyayangiku. Ia wanita yang malang. Di usia lima tahun pernikahannya bersama Anton, bibi Marie belum juga diberkahi anak. Itulah yang membuatnya menyayangiku lebih dari anaknya sendiri. Dan ia kerap memaksaku untuk tinggal di rumahnya setelah Ibu meninggal. Saat itu, aku menolak dengan halus. Aku merasa tidak ada yang perlu dipertahankan kembali sepeninggal Ibu. Ayahku, sudah bahagia dengan Pujia dan juga anak Pujia yang lahir jauh sebelum aku ada di dunia ini. Entah bagaimana caranya, mereka bisa menyembunyikan rahasia itu rapat-rapat. Membuat luka yang sebenarnya menganga lebar menjadi sebuah luka ringan yang kemudian tidak membekas. Aku kecewa dan marah. Untuk itulah aku memutuskan pergi.

Tahun-tahun pertama aku memutuskan kuliah di Norwegia, Ayah masih rajin mengirimiku surat. Mengirimiku gambar-gambar lukisannya yang berhasil ia selesaikan. Meski aku sangat membenci Ayah, sesungguhnya surat yang datang dari Ayah mampu mengusir sedikit kesepianku. Lambat laun, aku mulai merindukan suratnya ketika Ayah -entah sudah berapa lama, tidak pernah lagi mengirimiku surat.

Hujan membuat segalanya terlihat jelas. Kenangan-kenangan di suatu sore di teras rumah saat Ayah menikmati biskuit gandum kesukaannya. Kenangan tentang masa kecil yang baik-baik saja. Kenangan di suatu siang, ketika hujan deras mengguyur Norwegia, entah perasaan apa yang saat itu membuat nama Ayah menghiasi ponselku.

"Hallo?"

"Hallo An," hening yang bisu membuat tenggorokanku tercekat. "Bagaimana kabarmu, Nak? Kau sehat?"

Lalu, sebelum aku sempat menjawab pertanyaan Ayah, kulihat layar ponselku telah menghitam. Baterai lemah. Dan aku kembali dalam perasaan sunyi yang dalam bersama dengungan-dengungan suara Ayah yang masih membekas seiring bulir bening hangat yang tiba-tiba saja melumer di pipiku.

*

Melalui telepon siang itu, Pujia bilang, ia akan kembali lagi ke Indonesia dalam waktu beberapa hari ke depan. Sesungguhnya, aku tidak mengharapkan kedatangan wanita itu di Norwegia. Dan aku tentu tidak akan menginjakkan kaki bersama wanita itu di Jakarta. Aku bertekad, selepas urusanku selesai di Indonesia, aku akan cepat kembali ke Norwegia.

Namun sesuatu membuyarkan lamunanku. Ponselku berdering. Mendadak hujan di dalam taxi menjadi pemandangan yang tidak menarik lagi setelah sayup suara Bibi Marie terisak dari seberang telingaku.

"An.. kau dimana? Ayahmu... ayahmu meninggal."

Ada sesuatu yang menghujam dadaku. Semua seolah mendadak kebas. Aku tidak bereaksi apa-apa hingga akhirnya aku tak mampu menerima telepon dari Bibi Marie.

Entah apa yang menggelayuti pikiranku, aku tenggelam dalam kesunyianku sendiri. Meratapi sesuatu yang seperti terlambat untuk dikatakan. Dan air mata itu kembali mencair tanpa kuminta.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Kugy (Maudy Ayundia) bercita-cita ingin menjadi juru dongeng, sementara Keenan (Adipati Dolken) bercita-cita ingin menjadi pelukis. Mereka berdua bertemu di stasiun kereta saat kebetulan Eko (Fauzan Smith) dan Noni (Sylvia Fully) mengajak Kugy menjemput Keenan yang barusaja pulang dari Amsterdam.
Chemistry dan ketertarikan Kugy dan Keenan bermula saat Kugy menyerahkan buku dongengnya kepada Keenan sementara Keenan membuatkan ilustrasi dari cerita-cerita yang dibuat Kugy.

Bercerita tentang percintaan diam-diam antara Kugy dan Keenan (yang sama-sama hadir di saat yang tidak tepat) ini terbalut kisah persahabatan dan konflik yang apik.

Setelah beberapa hari ini saya keracunan Perahu Kertas dan sempat melihat treasernya di youtube, akhirnya hari ini saya diberi kesempatan untuk menontonnya. Entah, saya tidak tahu apa yang ada di pikiran Hanung ketika memvisualisasikan novel setebal 444 halaman itu menjadi sebuah film. Rasanya memang mustahil mengadaptasi utuh adegan demi adegan di dalam novel ke sebuah film berdurasi sekian jam saja. Sehingga pihak produksi harus rela memangkas beberapa adegan dan membuat film ini menjadi dua chapter.

Sebenarnya tidak masalah bagi saya jikalaupun film ini memang harus dibagi menjadi dua chapter, asal eksekusinya yang mengagumkan
Namun sepertinya, eksekusi dari film ini tidak menimbulkan 'greget' sama sekali. Hal itu terbukti sejak adegan pembuka hingga film mulai memasuki fase-fase ending. Banyak adegan di dalam novel yang sebenarnya sangat ingin saya lihat di dalam film justru tidak ditampilkan. Seperti adegan saat Kugy memanggil nama Keenan melalui sebuah mikrofon di stasiun. Adegan saat Kugy dan Keenan sama-sama terjebak di Stasiun Citatah saat kereta mengalami anjlok. Insiden pisang susu. Rencana pencomblangan Keenan dan Wanda (Kimberly Rider) yang disambut ekspresi 'penolakan' oleh Kugy. Percakapan Keenan dan Kugy saat tahun baru, sosok Mas Itok yang tidak dimunculkan, Pelukan Eko dan Kugy di sidang skripsi Kugy yang menyebabkan konflik antara Noni dan Kugy semakin meruncing, dan masih banyak lagi.

Banyaknya adegan yang terpotong, entah kenapa justru membuat sosok Kugy dan Keenan kehilangan chemistrynya. Padahal di novelnya, tokoh Kugy dan Keenan mempunyai chemistry yang terjalin cukup baik sekali. Plot di dalam novel yang teratur membuat jalan cerita dan konflik-konflik yang runtut. Chemistry kedua tokoh terjalin melalui impian mereka dan keanehan-keanehan mereka yang membuat dunia mereka berdua begitu mengagumkan. Namun, di dalam film, saya hanya melihat dari sudut pandang Kugy saja. Sebagaimana hanya Kugy yang mendapat perhatian ekstra. Narasi-narasi yang Kugy ceritakan cukup bisa membuat saya bernafas lega. Setidaknya, sosok Kugy benar-benar hidup melalui narasi-narasi yang apik, meski kenyataannya saya kurang bisa menemukan karakter Kugy di dalam peran Maudy yang terbilang baik. Sebaliknya, peran Adipati -entah kenapa- belum bisa menggambarkan sosok Keenan yang selama ini meledak di dalam kepala saya. Jika Kugy selalu mendapat sorotan di sepanjang film ini, Keenan seolah hanya menjadi pemeran pendukung. Padahal di dalam novel, kita semua tahu bahwa Keenan dan Kugy memiliki porsi yang sama. Mereka adalah tokoh utama yang sentral. Sumber konflik yang menyebabkan cerita bergerak dari satu bab ke bab yang lain.

Banyaknya adegan yang terpotong dan banyaknya adegan yang digabungkan secara paksa di bagian yang bukan tempatnya, membuat saya mengerutkan dahi. Tim produksi seperti berusaha keras menyambungkan plot demi plot dengan alur yang melompat-lompat, namun seringkali membuat penjiwaan karakter itu terasa kurang sekali dan membuat cerita yang dibangun seolah 'maksa' dan buru-buru agar secepatnya bisa sampai ke konflik lalu ending, selebihnya tidak memberikan kesan apa-apa. Seperti saat Kugy dan Noni tiba-tiba berseteru, dan Keenan yang mulai kehilangan impiannya lalu memutuskan ke Bali. Saya berharap di chapter itu, penjiwaan kedua tokoh lebih ditonjolkan lagi. Jujur, saat membaca novelnya, bagian itulah yang membuat saya 'susah bernafas'. Dimana Kugy yang merasa serba salah atas perasaannya pada Keenan, sementara Kugy yang ternyata memiliki kekasih bernama Ojos (Diyon Wiyoko). Hal yang sama terjadi pada Keenan saat mulai dekat dengan Luhde. Konflik akibat kesalahpahaman yang pada akhirnya membuat hubungan empat sekawan itu berubah. Tak lagi sama. Konflik batin antara Kugy dan Noni yang membuat dia menjauhi Noni.

Dan terlebih, kehadiran Hanung sebagai cameo, terlihat sangat aneh dan lucu :|
Saya ingat, dia juga pernah menjadi cameo di filmnya sendiri : Lentera Merah. Saya kurang tahu, kebiasaannya menjadi cameo di film-film buatannya itu semacam obsesi terpendam atau memang kekurangan peran sebagai cameo, sama sekali bukan masalah saya. :p

Film ini seperti sengaja mengejar durasi namun caranya kurang tepat.

Alhasil, separuh perjalanan menonton film ini, saya kebosanan. Apa yang saya bayangkan sangat jauh berbeda dengan apa yang saya baca.

Mendekati ending, jalan cerita mulai menemukan muaranya. Keenan tidak sengaja bertemu lagi dengan Kugy di acara nikah Noni dan Eko.

Jika di awal seperti buru-buru, menjelang ending justru terkesan lebih stabil. Jalan cerita sudah lebih runtut namun ada satu hal yang membuat saya mengerutkan dahi. Di dalam film, Eko dan Noni memutuskan menikah, padahal di novel, mereka hanya berencana tunangan saja, bukan? :|
Entahlah, bagian ini berpengaruh atau tidak. Tapi sebagai penonton film yang diadaptasi dari novel yang kebetulan saya baca juga, saya mengharap film ini tidak jauh beda dengan apa yang ada di dalam novel. Mungkin sang sutradara memang hobi sekali membuat adegan-adegan yang melenceng dari isi dari novel itu sendiri. Namun adegan ini seolah membawa angin segar. Adegan Eko yang salah mengucap ijab kabul membuat saya terpingkal. Dan sejauh ini, saya menganggap peran Fauzan Smith sebagai Eko adalah peran yang paling konsisten. Humor-humor cuek khas Eko seolah menjadi pengobat rasa kantuk saat menonton film ini, Fauzan memerankan Eko dengan sangat baik. Di samping peran Eko, saya memuji penampilan Reza Rahardian yang memerankan Remigius yang berkarisma dan berwibawa. Lalu, peran Luhde oleh Elyzia Mulachea yang menunjukkan gadis Bali yang pemalu.

Dan sepertinya saya harus melupakan novel aslinya saat melihat film ini. Karena bagaimanapun juga, film ini berbeda dengan novelnya dan ekspektasi saya justru sangat jauh berbeda dibandingkan menebak-nebak ending novelnya yang ternyata juga membuat saya kurang puas. Meski film ini pada akhirnya membuat saya kecewa, saya tetap mengapresiasi film ini sebagai sebuah karya seni. Jauh dari kekurangan-kekurangan yang saya rasakan, film ini memiliki tata cahaya yang menurut saya bagus. Suara yang jernih, pemilihan setting yang bagus dan tentusaja soundtrack yang ditata sedemikian apik. Satu-satunya hal yang menolong saya dari kebosanan menontonnya. Bagian favorit saya adalah, saat permulaan yang menunjukkan kapal Kugy yang mengambang di tengah laut. Menurut saya itu eksotis :D Dan saya baru sadar, ternyata format film episode pertama ini dibuat flashback dengan menyisipkan peristiwa-peristiwa sebagai kenangan Kugy di ending cerita. Dan mungkin karena alasan itulah kenapa film hanya menyorot satu sosok Kugy saja, bukan Kugy dan Keenan.

Terlepas dari itu semua, saya tetap menunggu chapter selanjutnya. Semoga bisa lebih baik dari chapter pertama. Yang jelas saya penasaran dengan lanjutannya. :)

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Minggu, Agustus 26, 2012

Masih ada beberapa waktu untuk bertemu Arne sebelum aku bertolak ke Indonesia. Pertemuan itu berlangsung di apartemennya. Spagetti dan sup kacang merah buatan Arne sama sekali belum tersentuh. Wanita itu diam membeku di depanku, membiarkan irama Yesterday mengalun sayup lewat dvd yang dibiarkan menyala di pojok ruangan. Gambar-gambar di televisi berubah-ubah. Arne tidak memedulikannya.

Di tengah cuaca yang mulai dingin itu, Arne hanya mengenakan kaus tipis berleher lebar yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya, juga sebuah hotpant berwarna hitam. Wajahnya muram, seperti memikirkan sesuatu yang tidak kuketahui. Rambutnya tergerai, sedikit lebih panjang dari yang terakhir kalinya kulihat. Sudah lebih dari seminggu ia tidak menghubungiku, juga menceritakan apapun yang biasa ia lakukan sepanjang malam. Arne berubah menjadi pendiam.

"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Arn? Kau tampak berantakan. Apa kau sakit?" Aku memecah keheningan. Namun Arne tidak bergeming. Ia menyesap air putih dan menyuapkan beberapa sendok sup kacang merah ke mulutnya dengan ekspresi datar.

"Aku baik saja, Len. Maaf aku jarang menghubungimu sekarang... Aku..." suara Arne menggantung. Ia seperti orang depresi. Matanya cekung dan wajahnya pucat.

"Saat aku berkunjung ke kantormu, mereka bilang kau sudah dua hari tidak hadir di kantor. Lantas bagaimana dengan proyekmu?"

Arne diam. Aku meralat ucapanku, tidak seharusnya aku membahas pekerjaan di suasana seperti ini. "Maaf Arne, maksudku..."

"Ya, aku memutuskan cuti selama beberapa hari. Mendadak ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan." Korden yang bersibak karena angin musim dingin menjadi satu-satunya irama yang menyelimuti kami. Salju masih turun seperti biasa. Aku berharap penerbanganku ke Indonesia tidak terganggu karena salju.

Aku membangkitkan tubuh, mengambil mantel yang terselampir di gantungan kemudian menyelimutkannya di tubuh Arne.
"Kurasa penghangat ruanganmu tidak berfungsi baik malam ini. Kau pasti kedinginan. Dan kurasa kau memerlukannya."

Arne masih tak bergeming. Tahu-tahu, air putihnya sudah habis dan ia menuangnya kembali. "Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa." Ia berkata. Suaranya serak.

"Ada apa?" Mendadak aku tidak bisa meninggalkan wanita itu sendirian. Ia tidak punya siapa-siapa di Norwegia, dan satu-satunya temannya bercerita adalah aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Arne jika aku meninggalkannya sendiri di negeri asing ini. Oke, aku berlebihan dan terlalu menganggap Arne selalu butuh kedatanganku.

"Kemarin Bibi Marie mengirim surat. Ayah sakit keras."

Aku tercekat. Sejauh aku mengenal Arne, baru sekali ini aku mendengar ia berbicara masalah keluarga. Selama ini, aku merasa Arne seorang gadis yang tertutup, ia tidak pernah suka jika aku membicarakan perihal keluarga.

"Banyak hal terjadi selama seminggu ini, Len. Tiba-tiba saja aku mendapat proyek yang sangat kuinginkan. Dan dalam waktu bersamaan, aku bertemu dengan seseorang yang tidak ingin aku temui, lalu surat Bibi Marie yang mengabarkan bahwa Ayah sakit keras." suaranya mulai bergetar. Bahunya berguncang, kemudian ia menangis.

***

Ia gadis yang menyukai krisan. Yang kerap memunguti serpih kelopak krisan secara diam-diam di halaman rumahku. Dulu, aku kerap melihatnya menyapukan kuas yang diam-diam dicurinya di sebuah alas buku gambar yang masih bersih. "Aku meminjam kuas ayah," katanya. Dan setiap menyapukan kuas itu, wajahnya selalu berbinar. "Aku ingin menjadi pelukis."

Aku tak pernah tahu siapa namanya. Ia gadis yang manis. Yang diam-diam selalu menunggu pria berkumis tipis itu melukis di halaman belakang rumah mereka. Dan waktu berputar, semakin sering gadis itu melukis sendiri. Menghabiskan hari dengan kesenangan yang ia ciptakan lalu suatu ketika aku melihat air matanya. Ia membiarkan bening itu luber memenuhi pipinya yang merah. Dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi melihatnya melukis. Pun memunguti serpihan kelopak krisan di halaman rumahku.

Tiba-tiba aku teringat kembali dengan kenangan itu, sekian lama. Karena Arne.

Wanita itu begitu rapuh. Aku membiarkan tangisnya tumpah di kemejaku. Membiarkan tubuhnya yang mungil meringkuk di pelukanku. Membiarkan segala sesuatu tumpah ruah saat itu juga. 

"Arn..." suaraku beku. Seperti hawa dingin yang mulai berangsur membatu. Aku menepuk pundaknya, dan tangis itu semakin menjadi.

Arne mengendurkan pelukannya, menatapku dengan mata sembab yang berusaha ia sembunyikan.

"Maaf... Tidak seharusnya aku bersikap senaif ini."

"Aku ada di sini bersamamu, Arn... Kau bisa bercerita apapun."

"Terimakasih Len, bahkan aku belum sempat mengenalkan Will padamu sesuai janjiku."

Hanya itu yang ia katakan. Selebihnya ia diam. Membiarkan segalanya membisu.

Hatiku ngilu.

Yesterday masih mengalun sesamar biasanya. Entah sudah berapa kali lagu itu terputar secara berulang-ulang, seperti itu.

Aku membangkitkan tubuh menuju ke arah lemari pendingin. Dan mataku tertumbuk pada vas bunga di atas meja kerja Arne. Vas itu berisi bunga krisan yang sudah kering.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Sabtu, Agustus 25, 2012

Arne


Salju pertama di bulan Desember mulai turun seperti kapas. Membawa hawa dingin yang membuatku malas beranjak dari tempat tidur. Ini masih terlalu dini. Namun migrain yang tiba-tiba menyerang kepalaku memaksaku untuk mengambil air putih di lemari pendingin dan beberapa butir aspirin.

Aku menyibak korden berwarna krem yang menyelimuti jendela lebar di pojok ruangan apartemen. Salju yang putih mulai menyelimuti kota seperti hamparan awan. Tidak terasa sudah Desember. Dan tidak terasa sudah beberapa tahun ini aku merayakan Natalku sendiri.

Aku mendesah. Meletakkan sisa air putih di meja kerja yang berada di dekat jendela. Membiarkan salju-salju itu menjadi pemandangan yang menghiasi jendela lebar itu. Salju dan Natal tiba-tiba mengingatkanku pada Ibu dan segala kenanganku di Indonesia.

Hening. Senyap. Dan ternyata suasana itulah yang menemaniku selama ini. Yang sertamerta membuatku melarikan diri. Yang memaksaku melakukan kesibukan sebagaimana tubuhku masih mampu melakukannya. Hingga baru sekarang aku menyadarinya. Suasana itu yang ternyata kuhindari selama ini. Suasana kesepian yang membuat slide-slide kenangan terputar jelas di kepalaku.
Seketika nafasku mendadak berat dan segalanya tumpah ruah menjadi butiran hangat yang melumer di wajahku. Dan aku membiarkannya.

***

Len


"Aku tidak tertarik dengan warisan!" Aku menegaskan kalimatku di ujung telepon. Suara Pujia tidak kalah serunya dengan suaraku. Setelah pertemuan di kedai sushi yang membuatku meninggalkannya secara sepihak, kini kami harus melanjutkan pertengkaran di ujung telepon.

"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan warisan."

Kemudian kudengar Pujia yang berbicara panjang lebar hingga suaranya serak dan terletan oleh air mata. Aku tercenung cukup lama. Entah kenapa aku merasa darahku ikut membeku. Aku merasa air matanya bukanlah kebohongan, melainkan sebuah air mata kesedihan yang berusaha ia tahan selama ini. Aku diam, membiarkan kebisuan menyelimuti sekelilingku. Membiarkan air matanya mengambil alih atas percakapan kami. Sesuatu tiba-tiba saja menyentak dadaku. Ini kali pertama ia memaksaku berfikir. Dan pikiran utama yang membayangiku saat ini adalah : pulang ke Indonesia.

***

Arne


Dulu, ayahku adalah seorang pelukis. Yang setiap kali harus berkutat dengan cat dan peralatan melukis yang membuat bajunya kotor oleh warna-warna. Setiap pagi, aku selalu menemaninya menggoreskan kuas ke atas kanvas di halaman belakang rumah. Setiap pagi aku mencium aroma cat minyak yang khas hingga aku terbiasa dengannya. Itu adalah momen-momen berharga yang membuat pagiku selalu berwarna, setidaknya sebelum semuanya berubah buram. Dan ekspektasiku kepada ayah berubah sekian derajat. Ayah yang semula menjadi sosok yang sangat kukagumi, tiba-tiba menjadi sosok yang sangat kubenci.

Pertengkaran malam itu menyisakan lebam di pipi Ibu. Suatu pagi, aku tidak mendapat Ayah yang biasa melukis di halaman belakang rumah. Justru aku melihat segalanya telah bersih. Semua peralatan melukisnya sudah tidak membekas satupun di rumah. Kata Ibu, Ayah pergi ke luar kota dalam jangka waktu lama. Namun, selama bertahun-tahun aku menunggu, Ayah tak juga kembali. Hanya surat-suratnya yang kuterima diam-diam lewat tetangga samping rumah. Katanya, jangan sampai Ibu tahu.

Di suratnya Ayah bercerita panjang lebar. Ia merindukanku. Ia menanyakan kabarku. Ia meminta maaf karena meninggalkanku tanpa pamit. Ia mengabarkan bahwa lukisannya masuk galeri. Ia mengabarkan semuanya, termasuk kabar tentang nama asing yang mulai menghantui telingaku. Beberapa tahun, hingga aku dewasa, lewat surat-surat itulah aku berbicara dengan Ayah. Menyembunyikan kebohongan dari Ibu yang sejak saat itu tampak muram. Hingga pada suatu ketika, aku mengetahui semuanya, perihal kenyataan yang disembunyikan orang tuaku sendiri. Saat aku dewasa yang membuat penilaianku kepada Ayah berubah drastis. Bahwasanya Ayah tidak keluar kota, tapi Ayah kembali pada wanita masa lalunya. Yang kemudian kukenal sebagai : Pujia.

***

Len


Aku menyanggupi ajakan Pujia untuk bertemu kedua kalinya di kedai yang berbeda. Kali ini aku memilih kedai kopi yang terletak lumayan jauh dari apartemen dan tempatku bekerja. Salju turun belum terlalu deras, namun musim dingin di Norwegia selalu memaksaku mengenakan pakaian lebih tebal.

Berbeda dengan pertemuanku sebelumnya, kali ini Pujia datang lebih awal. Di sebuah sudut di dekat jendela, ia duduk sambil sesekali melamun. Ia mengenakan mantel berbulu warna hitam. Kacamata tebal dan memasang hesdset di telinga. Rambutnya membentuk gelungan seperti biasanya.

"Kau sudah datang?" Ia tampak terkejut menyadari kedatanganku. Dilepasnya kacamata dan headset itu. Tatapannya berubah fokus. Hanya kepadaku.

"Maaf aku terlambat. Alarmnku tidak bekerja dengan baik pagi ini." Aku mengambil duduk di depannya.

"Mau pesan apa?"

"Apapun yang menghangatkan."

Lalu beberapa menit kemudian, dua cangkir latte menghiasi meja kami.

"Maaf, Len. Aku tidak pernah memaksamu melakukan ini." Suara Pujia menggantung di udara.

"Anggap saja ini kewajibanku sebagai anak, Pujia."

"Apa kau belum bisa memaafkanku?" ia berkata seolah-olah ia manusia paling bersalah di muka bumi ini.

"Aku sudah memaafkanmu, Pujia. Jauh sebelum kau meminta maaf padaku." Aku menekan kalimatku dan menyesap latte itu. Asap tipis mengepul di udara. Kulihat, Pujia tak benar-benar menatap ke mataku. Ia tampak kikuk. Hal yang sama terjadi padaku.

"Kau sudah mempertimbangkannya, Len?"

Aku diam sejenak. Menyulut rokok yang terasa hambar. Ini rokok pertama sejak beberapa bulan yang lalu aku memutuskan berhenti. Dan kembali, aku harus menelan janjiku. Rokok itu sudah menghasilkan asap putih yang sertamerta hilang. Entah kemana.

Aku mengangguk. "Sudah kuputuskan..." Suaraku menggantung. "Aku akan ikut denganmu ke Indonesia."

Jawaban yang mencekat tenggorokanku itu disambut senyum simpul di bibir Pujia. Dengan sigap, ia lantas memegang tanganku dengan tangannya yang hangat. Aku membiarkan pelukannya mengambur di tubuhku. Sejenak, aku tenggelam dalam hangat yang ia ciptakan. Hangat yang entah sudah berapa tahun hilang dari hidupku. Hangat seorang Ibu.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Jumat, Agustus 24, 2012

Arne


Makan siang kali ini Will mengajakku kencan di sebuah kedai sushi tak jauh dari kantor tempatku bekerja. Oh iya, Will adalah sepupu Nick. Seorang wartawan lepas di sebuah media lokal. Will seorang pribadi yang menyenangkan. Seperti kebanyakan wartawan, ia tak terlalu senang mengenakan baju formal. Dan sebagai gantinya, ia hanya mengenakan setelan jins, converse, kaus tanpa kerah dan sweater warna abu-abu. Ia berkacamata dan wajahnya memiliki bintik-bintik merah yang samar.
Aku berkenalan dengan Will sejak menjalin hubungan dengan Nick. Dan kami mulai akrab setelah kebetulan kami bertemu di peluncuran proyekku. Saat hari libur, dulu Will kerap mengajakku mengunjungi tempat-tempat menyenangkan di Norwegia. Bermain ski, melihat matahari terbenam atau mengunjungi taman-taman di Norwegia. Meski ini bukan pertemuan pertamaku, tapi makan siang kali ini adalah ajakan Will pertama kalinya setelah ia tahu aku tak lagi menjalin hubungan dengan Nick.

"Sebentar lagi Nick akan menikah," Will memulai percakapan. Ia melepas ranselnya dan meletakkan kamera di meja. "Mau pesan apa?" Ia melihat-lihat daftar menu sementara aku masih sibuk memilih dan akhirnya harus pasrah dengan keputusannya.
"Pesananmu dikalikan dua," kataku disambut senyum simpulnya.

Beberapa menit berlalu dan pelayan datang dengan pesanan kami.
"Sushi di sini enak sekali," katanya berbinar.

Aku mengangguk sebagai pertanda setuju dengan argumen itu. Sepotong sushi sudah memenuhi mulutku.

"Kau sibuk apa, An?"

"Masih sibuk dengan pekerjaan."

"Ada rencana untuk pulang ke Indonesia?"

Pertanyaan Will mengambang di udara. Aku diam, sibuk mengunyah sushiku. Entah kenapa pertanyaan itu membuatku gemetar.

"Dalam waktu dekat ini belum ada."

Itu adalah jawaban terbaik yang kumiliki. Pulang ke Indonesia? Membayangkannya saja aku tidak pernah.

Will maklum. Kembali menikmati sisa sushi di piringnya.

"Dalam waktu dekat aku akan ke Indonesia," ia bekata pada akhirnya.
Aku hampir tersedak mendengar pengakuannya.

"Ada hal yang harus diliput." Will sepertinya bisa membaca isi pikiranku.
"Dalam waktu dekat ini aku
berangkat."

***

Len


Pujia menelfon dan mengajakku bertemu di sebuah restoran pilihannya. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat wanita itu, mungkin sejak ayah meninggal dan ia memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada pria lain.

Aku datang lebih awal dari jam yang telah kami sepakati dan Pujia menyusul beberapa menit setelahnya.
Wanita itu mulai tampak memasuki pintu restoran. Setelah aku menyadari kedatangannya, aku melambaikan tangan dan ia buru-buru mendekat.
Senyumnya mengembang. Dengan sigap ia menyalami tanganku kemudian memelukku. Aku mempersilahkan ia duduk dan kami mulai memesan menu.

"Kau tampak berbeda sekali, Len. Rasanya sudah berapa lama aki tidak melihatmu?" itu kalimat sapaan yang menurutku terlalu basa-basi.

"Aku baik saja. Bagaimana kabarmu?" nada bicaraku dingin. Seperti sebongkah es batu yang menghiasi meja makan kami.

Pujia justu tertawa. Apanya yang lucu? Aku membatin.

Ia melepas kacamata hitam besar yang menghiasi matanya. Wanita paruh baya itu mengenakan tunique ungu muda. Dipadankan dengan celana pendek berwarna tulang. Rambutnya disanggul sekenanya, membuat riak-riak rambut terlihat berantakan menutup tengkuk dan telinganya. Penampilannya terlihat santai hari ini.

"Omong-omong, apa yang membuatmu datang kesini?" itu pertanyaan sarkastik yang tiba-tiba saja kulontarkan.

Pujia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Di wajahnya terdapat kerutan yang membuatnya tampak jelas jika ia mengulumkan senyum.
"Menjemputmu," katanya.

"Apa maksudmu?"

"Aku ingin kau pulang ke Indonesia bersamaku."

Aku menatap matanya kemudian berkata, "Kau bercanda." Lalu, sebuah tawa menggema di udara. Bagaimana bisa ia datang hanya untuk menjemputku? Itu sama sekali tidak masuk akal.

Raut Pujia tampak serius. "Kau tahu kan aku tidak pernah main-main?" itu pertanyaan retoris yang ia lontarkan.

Aku menghentikan tawaku. "Kau tidak bisa melakukannya seenakmu sendiri. Pulang ke Indonesia sama saja dengan menghancurkan semua mimpiku yang mulai mendekati kenyataan!" aku sedikit naik pitam.

"Kau masih keras kepala seperti dulu, Len!"

"Seperti dulu?" Aku tertawa skeptis. "Sejak kapan kau mengenalku?"

Wanita itu tidak menjawab. Tapi aku tahu matanya yang menyala-nyala seperti api. Aku ingat ekspresi itu. Kemarahan itu. Seperti beberapa tahun yang lalu. Lantas dengan kemarahan yang masih ia tahan, ia berlalu meninggalkanku.

***

Arne


Aku meninggalkan Will sejenak di meja makan. Nick menelfon. Mengabarkan bahwa kami harus menemui seorang klien untuk membahas masalah desain sebuah hunian baru.
Perasaanku mendadak campur aduk, maka kuputuskan ke toilet untuk menghindar sejenak.
Di meja makan itu, Will tampak setia menunggu. Beberapa kali ia memainkan smartphone yang ada di tangannya. Dan meninggalkannya sendiri seperti itu sama sekali bukan maksudku.

"Oke Nick, aku akan kembali secepatnya." percakapan diakhiri. Aku memasukkan ponsel ke dalam saku celana kemudian mencuci tangan sebelum pandanganku tertumbuk pada sesosok bayangan di cermin.

Aku terkesiap menyadari pemandangan itu. Wanita itu barusaja keluar dari kubikel. Dan ekspresinya tak jauh berbeda dengan ekspresiku.
Kami sama-sama terkejut. Berpandangan sejenak melalui cermin. Baru aku menyadari, bahwa aku seperti terjebak dalam situasi rumit yang membuat kakiku beku. Aku tidak bisa melarikan diri.

"An..?" suara wanita itu menggantung. Ia melihatku dengan wajah kaku, mematung, seperti tidak percaya dengan kehadiranku di situ.

Aku membalikkan badan. Sungguh, ini bukan pertemuan yang aku harapkan. Pelan, sekelebat kenangan mulai terputar ulang di kepalaku. Dan mendadak aku ingat bagaimana ia menyerahkan sebuah muffin yang kemudian menyita perhatianku. Aku ingat semuanya, tanpa terkecuali.

"Hai? Kapan kau datang?" aku menyadari kebekuan dari suaraku sendiri.

Tanpa memedulikan ucapanku, wanita itu langsung mengambur. Memelukku.

"Apa kabarmu, An? Kau sudah nampak dewasa sekarang."

Ada sesuatu yang menyentak dadaku. Dengan susah payah, aku nelepaskan pelukan wanita itu.

"Senang bertemu denganmu lagi, Jia. Tapi maaf, aku buru-buru. Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Sampai jumpa."

Dengan langkah cepat, aku segera menuju ke tempat dimana Will duduk menungguku.
"Will, maaf.. aku harus segera kembali ke kantor. Nick bilang, ada proyek yang harus segera kami rapatkan. Nanti aku akan menghubungimu lagi. I'm so sorry, Will." Aku yakin Will terheran-heran melihat sikapku. Tanpa memedulikan reaksi apa yang selanjutnya akan ia keluarkan, aku cepat-cepat menghambur dari ruangan itu.
Sungguh, semua mendadak kacau. Bahkan aku belum sempat meredakan degup jantungku sendiri ketika tanpa sadar melihat Len menghiasi kaca restoran yang sama dengan tempatku makan siang dengan Will.
Sedang apa Len di situ?
Pertanyaan itu berhamburan. Namun tidak ada waktu untuk memikirkan semua yang serba tiba-tiba terjadi. Seolah kedatangan wanita itulah yang telah mengacaukan semuanya. Dan hal paling penting yang harus kulakukan sekarang adalah keluar dari tempat itu secepatnya. Melarikan diri.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6