Minggu, September 22, 2013

Setelah kurang lebih dua tahun menghuni kost yang lama, saya akhirnya memutuskan pindah pada Jumat malam kemarin. Betapa tidak biasa meninggalkan segala rutinitas yang selama dua tahun itu tidak pernah berubah, untuk menjalani rutinitas baru dengan lingkungan yang baru pula. Maklum, saya adalah tipe yang tidak menyukai jenis adaptasi apapun. Jika boleh memilih, maka saya ingin pindah ke tempat yang tidak usah mengharuskan seseorang beradaptasi. Tapi, jelas itu tidak mungkin. Sebab saya tercipta sebagai makhluk sosial, bekerja di lingkungan sosial, meskipun nyatanya saya mengidap gejala antisosial.

Akan saya ceritakan sedikit.

Kamis, Agustus 08, 2013

Andhini
oleh : Eros Rosita





Langit kelabu dan hujan belum turun saat wanita itu memutuskan untuk tetap tinggal dan menikmati beberapa sesapan kopi hasil buatan lelaki berambut gondrong itu. Namanya Wugi, penghuni masa lalu yang tiba-tiba menyelinap kembali ke dalam masa depan wanita itu. Di ujung malam, saat wanita itu masih sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di meja kerja, Wugi memberanikan diri menelpon wanita itu dan menyuruhnya datang setelah sekian lama mereka tidak bertemu.

Wanita itu bernama Andhini. Berambut panjang lurus yang tergerai dan berkulit pucat seperti bulan yang muncul di tengah sinar matahari pagi. Saat Andhini datang, tidak ada yang berubah dari apa yang terakhir kali dia lihat. Lima tahun lalu. Meja bundar terbuat dari kayu jati berukiran sayap malaikat masih berada di sudut ruangan di dekat jendela lebar berkorden abu-abu kusam. Meja itu memang sengaja diletakkan di sudut itu karena Wugi tahu, Andhini menyukai senja. Dan Wugi tahu Andhini suka duduk berlama-lama di situ hanya untuk menikmati senja yang tenggelam saat jam pelan merangkak tepat pukul lima empat lima.

"Ada apa kau menyuruhku datang, Wugi? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?" Andhini membiarkan asap kopi mencumbu hidungnya yang mancung dan bertulang tegas. Sudah lama dia tidak mengirup kopi buatan Wugi yang telah menjadi favoritnya.

Rabu, Juli 31, 2013

Saat aroma kopi itu menjauh,
kusadari bahwa kau
tak mungkin kutemui lagi.
Seperti aromamu yang terempas
oleh butir udara,
meninggalkanku dalam sunyi
yang dingin.


Sampai kusadari kau hadir,
menyergapku dalam diam,
mengembalikanku dalam kenangan.
Dan, menabur aroma yang sama
dengan apa yang telah kutinggalkan.
Ketika itulah aku pahami,
aku tak mungkin berpaling lagi.


Judul : The Coffee Memory, Ketika Aroma Cintamu Menyergapku
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka (Pustaka Populer)
ISBN : 978-602-7888-20-3
Harga : Rp39.000,-

Kamis, Juli 25, 2013

Dari Barcelona, niat saya berkunjung ke Paris harus tertunda. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi London terlebih dulu bersama Gilang. Next destination menyusul ya :D

Setelah mengetahui bahwa Mbak Windry terlibat dalam proyek STPC yang digagas oleh Bukune dan Gagas Media, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk membeli buku ini. Dan hasilnya, saya selesai membacanya dalam waktu yang relatif singkat.

Buku ini bercerita tentang Gilang, seorang editor yang merangkap sebagai penulis susah fokus, yang lebih dari enam tahun memendam perasaan pada sahabatnya sendiri, Ning, yang memutuskan melanjutkan pendidikan di Royal College of Art London. Ide gila itu bermula saat acara malam minggu di Bureau, secara spontan Gilang memutuskan untuk mengejar Ning ke London. Dan niat itu disambut baik oleh teman-temannya. Alhasil, setelah mengambil cuti selama delapan hari, dan mengurus semua perlengkapan, jadilah Gilang pergi ke kota itu.

Sesampainya di London, bukan bertemu Ning, Gilang justru bertemu dengan Goldilocks di London Eye, gadis berpayung merah yang berambut keemasan, yang misterius karena muncul saat hujan turun dan pergi di saat hujan reda. Sejak peristiwa di London Eye bersama Goldilocks dan sejak Goldilocks meninggalkan payung merah itu untuk Gilang, Gilang seolah selalu terhubung dengan gadis kaukasoid itu. Payung merahnya seolah memiliki daya magis yang luar biasa. Dimulai dari kisah V, lelaki berdagu mirip topeng Guy Fawkes yang memiliki masalah dengan mantan istrinya, Madam Ellis dan Mr. Lowesly yang memiliki kisah masa lalu rumit, hingga menyangkut Ning dan semua harapan juga perjuangan yang selama ini Gilang taruhkan.

Tidak seperti Memori yang menurut saya suram dan tenang, tidak juga seperti Montase yang menurut saya lincah dan ringan. London sama sekali berbeda. London justru lebih ‘nakal’ dan menggelitik. Di dalam novel London, saya menemukan banyak frame cerita yang memiliki penyelesaian sendiri-sendiri dan kembali pada muara yang sama, cinta. Saya jadi ingat salah satu pepatah Kafka yang berbunyi, ‘cinta itu ibarat mobil, ia tidaklah rumit. Yang menjadi persoalan hanyalah sopir, penumpang dan jalannya.’ Saya sepakat dengan itu. Ya, jauh sebelum kita lahir, Tuhan sudah menciptakan cinta menurut porsinya masing-masing. Yang menjadikannya rumit adalah jalan kita akan melabuhkan cinta itu, mengingat setiap orang tentu memiliki jalan cinta yang berbeda satu sama lain. Tidak semuanya menemukan kesedihan, tidak pula kebahagiaan. Dan di Novel ini saya merangkumnya menjadi sebuah kisah cinta yang utuh. Cinta yang meluaskan, cinta yang membebaskan, dalam lingkup yang sebenarnya.

Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya. (hlm. 297)

Barangkali klise, tapi manusia tidak lebih hanyalah lakon dalam sebuah pementasan. Manusia hanya bisa menerima. Termasuk pada cinta yang terkadang muncul secara tak terduga, cinta yang bersifat mutlak. Tidak seorang pun bisa menolaknya, bukan? Lantas pada akhirnya, manusia pun menerima meski terkadang cinta itu kerapkali menyisakan luka.

Siapa yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengobati luka hati? (hlm. 310)

Hal inilah yang mungkin sedang dialami Gilang. Jika dia bisa memilih, barangkali dia akan memilih untuk tidak mencintai Ning. Jika dia tahu bahwa dia akan terluka, barangkali dia akan memilih untuk tidak mencintai Ning.

Kalau saja kita jadi anak-anak selamanya, situasi rumit ini tidak akan pernah ada. (hlm. 295)

Barangkali, inilah yang dimaksud Kafka sebagai persoalan rumit.

Perihal cinta yang memiliki jalan sendiri-sendiri itulah awal saya mengalami sedikit kesulitan menemukan fokus dari cerita di novel ini. Tapi setelah mendekati ending, barulah saya mengerti. Dan barangkali saja, itu sebabnya novel ini mengambil tagline Angel. Sebab sebenarnya, itulah benang merah ceritanya. Cinta dan malaikat, sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan.

“Tahukah kau apa yang turun bersama hujan?”
Aku menggeleng.
“Malaikat,” kata lelaki itu. Suaranya berubah pelan, seolah-olah dia sedang membisikkan rahasia kepadaku. (hlm. 126)

Bersama malaikat hujan lah, London akhirnya membuat saya jatuh cinta pada Gilang. Seperti biasa, dengan kekuatan detil cerita, mbak Windry selalu bisa menciptakan plot yang enak dibaca. Konflik yang pas, informasi yang tidak menggurui. Dibumbui setting London dan hujan di bulan September, bau daun kering dan sebagainya, novel ini romantis tanpa harus menggunakan banyak kata picisan yang terkesan mendayu-dayu, ataupun kontak fisik antartokoh ala harlequin yang menjadi prioritas.

Well, di dalam novel ini saya belajar banyak hal. Terlebih tentang sesuatu yang memang harus diperjuangkan, apapun itu. Dan sepahit apapun itu, perjuangan pasti tidak akan pernah berakhir sia-sia. J

Menunggu cinta bukan sesuatu yang sia-sia, menunggu seseorang yang tidak mungkin kembali, itu baru sia-sia (hlm. 247)





Judul : London : Angel
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Cetakan Pertama : Juli 2013
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : 340 hlm
ISBN : 979-780-653-7
Price : Rp. 52. 000,-




Jakarta, Juli 2013
Pagi hari. Selepas hujan di pertengahan bulan September. Untuk pertama kalinya aku menerima sebuah surat dan sebuah kartu pos dari London. Surat itu dikirimkan oleh seorang yang tidak sengaja kukenal lewat dunia maya yang lantas kutemui beberapa waktu lalu. Namanya Gilang. 

Akan kuceritakan sedikit.

Gilang, yeah, lelaki maniak Fitzgerald itu kukenal lewat akun fanpage yang sama di Facebook. Memakai foto profil penulis itu dan secara tidak sengaja dia mengirimiku pesan singkat yang memberitahukan bahwa dia mempunyai buku Orwell yang selamaini kucari-cari. Entah aku yang sinting, atau dia yang gila. Aku mencari buku Orwell di fanpage Fitzgerald dan menemukan satu alien terdampar di inbox-ku dan alien itu menanggapi permintaanku di sebuah komentar yang sengaja kutinggalkan. Parahnya, dengan mengatasnamakan Orwell, alien itu mengajakku bertemu di Galeri Nasional di kawasan Gambir. Demi Orwell dan―kurasa aku harus meminta maaf pada Orwell, baru kali ini aku bertemu seorang maniak sastra di galeri seni rupa. Ini tidak lucu, kecuali jika dia juga pengagum berat Piccaso atau Monet atau Dali atau sederetan nama pelukis beraliran abstrak dan surealis yang sama sekali tidak kumengerti.