Senin, Agustus 20, 2012

Mungkin sudah berbulan-bulan atau bahkan hampir satu tahun lebih draft itu tidak tersentuh. Semasa di warnet, saya mengerjakan draft itu dengan tekun. Menyalin kembali draft mentah yang sudah saya ketik di warnet untuk dikembangkan di rumah. Mengirimkan tiap bab yang berhasil saya tulis kepada teman saya untuk dikomentari. Saya juga ingat saat itu teman saya dengan proyek novel solonya. Setiap minggu kami selalu membuat deadline, membuat soundtrack-soundtrack untuk draft yang akan kami kerjakan. Saling mengirim draft untuk dikomentari. Begitu seterusnya hingga akhirnya saya harus ke surabaya. Draft itu terbengkalai. Semasa di Surabaya saya hampir tidak pernah menulis. Semua seolah buntu. Saya masih stuck di bab yang sama. Selama berbulan-bulan hingga akhirnya saya memutuskan pergi ke Jakarta. Selama di Jakarta, saya masih sering berkomunikasi dengan teman saya itu. Membahas draft-draft yang tertunda, membahas perihal sharing yang dulu selalu kami lakukan melalui email atau inbox bahkan sms. Sharing yang semakin jarang terjadi setelah saya 'berpindah-pindah' tempat.

Belakangan, saya dengar kabar dari teman saya. Proyeknya yang dulu stuck di tengah jalan seperti saya. Namun bedanya, teman saya mempunyai proyek baru. Dia benar-benar menulis kembali dari nol. Mulai dari membuat outline dan sebagainya, benar-benar dimulai dari nol. Berbeda dengan saya yang masih berkutat dengan draft lama yang tak kunjung menemu titik terang.

Hingga sebuah kesempatan itu tiba. Pencarian outline itu membuat saya tergerak untuk melanjutkan draft saya yang beku. Sebagaimana saya, teman saya pun akhirnya tergerak untuk mencoba mengirim outlinenya. Dan keberuntungan ternyata berpihak pada kami. Outline kami lolos seleksi. Singkat cerita, kami diundang di workshop di Jakarta. Saya dengan draft yang tertunda, dan teman saya dengan draft baru yang dia tulis mulai dari nol.

Waktu berbulan-bulan berlalu, saya masih terus berkutat dengan draft lama. Masih mengalami kebuntuan yang sama. Di tempat sama. Apalagi setelah mendengar kabar bahwa saya harus merombak outline saya, mengirimkannya saat semua sudah terangkai rapi menjadi satu kesatuan utuh naskah yang siap dibaca. Saya menyebut ini kesempatan emas, tapi saya justru mengalami kemunduran mental. Kehilangan rasa percaya diri yang entah menguap dimana. Saya justru semakin terpuruk dengan kebuntuan yang ada. Dan teman saya bernasib sebaliknya. Dia berhasil membuat outline yang tadinya berupa draft-draft menjadi sebuah buku yang kini bisa dibaca, dinikmati, bahwa mimpinya pelan-pelan telah menjadi nyata. Karena kerja keras dan ketekunan yang tentunya tidak saya aplikasikan di dalam hidup saya selama ini.
Ternyata saya salah. Menghadapi kebuntuan dengan cara yang salah, yang justru semakin membuat kebuntuan itu bertambah menganga. Seolah akan menelan saya kapanpun dia mau.

Saya gamang bukan main karena memelihara kebuntuan mendarah daging dalam diri saya. Saya gamang ketika menyadari bahwa ternyata sayalah yang menghilangkan kesempatan-kesempatan yang datang pada saya. Melihat kesuksesan teman- teman saya, melihat satu persatu mimpi yang dulu merupakan sebuah ilusi yang kini mulai menampakkan tanda nyata, saya merenung. Bukankah saya memiliki mimpi yang sama dengan mereka beberapa tahun lalu? Dan sekarang mimpi itu belum berubah satu jengkal pun. Mimpi itu masih setia menjadi dorongan-dorongan kecil yang kerap menghantui alam bawah sadar saya, mensimulasi otak saya, mensugesti kepada otak saya bahwa saya ternyata tidak bisa hidup tanpa menulis. Saya merasa tersiksa setiap perasaan buntu menghinggapi saya, seolah jiwa saya telah mati. Kata-kata yang mulai terangkai satu-satu justru luluh. Menguap entah kemana. Dan otak saya beku..

Dengan susah payah saya menghindar, melarikan diri dari kebuntuan. 'Membuang' semua draft-draft yang tak terselesaikan. Berniat berhenti mengejar mimpi itu karena merasa sangat frustasi. Tapi, justru keputusan itulah yang perlahan saya sadari sebagai keputusan fatal. Sumber kesakitan pada apa yang saya alami selama ini, yang ternyata saya ciptakan sendiri.
Mengerikan. Sungguh.

Saya tidak pernah membayangkan akan terjebak sejauh ini pada kebuntuan. Pada lubang hitam. Pada hal mengerikan yang tidak sanggup saya bayangkan. Lalu, dengan banyak berduskusi dengan salah seorang teman, pintu hati saya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Kebuntuan saya mencair sedikit demi sedikit. Saya mulai 'egois', saya mulai skeptis. Ya, terkadang seseorang memang perlu egois. Dan saya melakukannya. Saya berusaha menjadi diri saya sendiri. Saya berusaha menulis apa yang saya bisa, yang saya mampu. Dan pelan, cahaya berpendar sedikit demi sedikit. Meski bertahap, saya mulai bisa menemukan kembalibdunia saya yang hilang, kebebasan saya, sesuatu yang saya yakini sejak dulu. Bahwa tanpa menulis, saya tidak lebih dari seonggok manusia tak berguna. Ya, saya mencintai kata. Sebagaimana saya mencintai dunia di dalamnya. Dunia yang saya anggap sebagai jalan saya kelak dan Tuhan ridho akan hal itu. Saya gembira bukan main. Sesuatu menyeruak dalam dada saya, membuat saya merasa lega. Merasa bebas.

*

Saya merindukan saat-saat dimana saya bertukar cerita dengan teman saya, mengomentari satu sama lain. Saling memberikan dukungan. Moment itu terpatri jelas di benak saya. Di otak saya. Dan hari ini kembali saya buka draft lama saya yang tertunda itu. Membacanya sekilas. Beberapa tokoh kembali menari di dalam benak saya, meminta untuk dibebaskan dari dalam labirin yang selama ini mengurung mereka semua. Saya sudah kadung jatuh hati dengan tokoh saya itu. Dan cerita di dalamnya.
Dan mungkin saya akan menyimpan draft itu sebagai bagian dari proses belajar saya. Menyimpan untuk menuliskannya ulang. Sudah saatnya mereka berhak merdeka.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Minggu, Agustus 19, 2012

Judul : Perahu Kertas
Penulis : Dee
Penerbit : True Dee Pustaka Sejati dan Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Februari 2010
Jumlah Halaman : 444 halaman

Belakangan ini saya dibuat penasaran dengan novel ini setelah mengetahui bahwa novel ini akan difilmkan dalam waktu dekat. Rasa penasaran itu terobati sudah setelah kurang lebih seminggu (akhirnya) saya bisa membabat habis novel ini.

Perahu kertas bercerita tentang dua anak manusia yang bisa diibaratkan sebagai bumi dan langit yang kemudian dipersatukan melalui laut. Keenan, seorang yang pendiam, sedikit cuek, dan mempunyai bakat luar biasa dalam hal melukis yang kemudian membuatnya bercita-cita sebagai pelukis.

Sementara Kugy adalah gadis yang cenderung berantakan, spontan, eksentrik, dan menggilai dongeng yang membuatnya bercita-cita menjadi juru dongeng.

Keenan dan Kugy dipertemukan melalui tokoh Eko dan Noni. Eko yang merupakan sepupu Keenan dan Noni yang merupakan sahabat baik Kugy. Singkat cerita mereka bersahabat. Keenan diam-diam mengagumi Kugy karena bakat menulisnya, sementara Kugy mengagumi Keenan karena bakat melukisnya. Kedekatan itu akhirnya memicu cinta tumbuh diam-diam di antara mereka. Namun, baik Keenan dan Kugy sama-sama berada dalam posisi sulit. Kugy masih berstatus sebagai pacar Ojos, sementara Keenan diam-diam dijodohkan dengan seorang kurator muda bernama Wanda.

Sejak melihat kedekatan Keenan dan Wanda, Kugy semakin menarik dari lingkaran persahabatan itu. Dia menjadi pendiam dan lebih banyak murung. Hubungannya dengan sahabatnya mulai merenggang. Kugy pun menenggelamkan diri pada kesibukan yang diciptakannya sendiri, mulai dari keputusan lulus cepat dan menerima ajakan Ami untuk menjadi pengajar relawan di Sakola Alit, sekolah yang mempertemukannya dengan Pilik, murid paling nakal sekaligus inspirasi bagi dongeng-dongengnya selama ini. Dongeng yang kemudian diserahkannya pada Keenan untuk dibuatkan ilustrasi. Sementara Keenan, mimpi menjadi pelukis yang tidak disetujui ayahnya harus membuatnya nekat mengambil keputusan berhenti kuliah demi bisa total melukis. Dan pengorbanannya seperti menemukan kebuntuan saat mengetahui bahwa Wanda telah menghancurkan semua mimpinya.

Dalam keadaan frustasi, Keenan memutuskan 'melarikan diri' ke Ubud, menetap di rumah Pak Wayan, seorang seniman yang disegani di Bali, sahabat ibunya. Di Ubud, Keenan bertemu Luhde Laksmi. Seperti sebuah gurun yang kemudian menemukan kembali oasenya, pelan-pelan Keenan mulai menemukan kembali rasa percaya dirinya. Dia kembali melukis, berkat Luhde juga berkat buku dongeng pemberian Kugy. Singkat cerita, Keenan mulai menerima Luhde sebagai seseorang yang penting di hatinya saat itu.

Seperti yang direncanakan, Kugy lulus cepat. Mendapat rekomendasi kerja dari Karel di sebuah perusahaan iklan sebagai copywriter. Di perusahaan itu, Kugy bertemu dengan Remigius, atasannya. Melihat ide-ide spontan yang selalu keluar dari otak Kugy, Remi mulai memperhitungkan Kugy di kantornya dan tanpa sadar dia pun jatuh cinta pada Kugy.

Cerita ini terus berlanjut, dengan konflik-konflik runtut seperti sebuah cerita bersambung. Berbeda dengan novel Dee yang pernah saya baca, Perahu Kertas justru menggunakan diksi yang ringan, dengan dialog-dialog khas remaja. Tidak terlalu detil tapi saya pribadi sangat menikmati setiap diksi yang Dee tulis di novel ini. Saya sendiri sebenarnya kurang terlalu menyukai novel dengan terlalu banyak tokoh. Namun, di novel ini Dee mengemas tokoh-tokohnya rapi. Hampir semua tokoh memiliki keterkaitan satu sama lain. Dengan format seperti cerita bersambung, keberadaan tokoh yang terlalu banyak tidak menjadi halangan buat saya untuk terus membaca. Hanya saja ada beberapa bagian yang saya rasa terlalu diulur-ulur. Yang membuat saya gemas membaca bab demi bab hanya untuk mengetahui kejutan apa yang akan Dee hadirkan di ending nanti, meski saya tahu, roman memang cenderung berakhir happy ending dan tokoh selalu diset untuk menjadi 'satu'. Intinya, saya sudah menebak-nebak, akan dibawa kemanakah cerita ini sebenarnya, dengan ending yang seperti apa.

Mendekati bab-bab akhir, saya mulai tidak sabar. Beberapa kali tebakan saya di awal-awal bab ternyata berakhir sesuai dengan yang saya pikirkan. Satu-persatu masalah mulai terlucuti satu-satu. Dan benang merah mulai terbuka jelas.

Tidak seperti bab awal yang membuat saya antusias, bab-bab menjelang akhir justru membuat saya kecewa berat. Meski novel ini bisa dikatagorikan novel galau maksimal dengan konflik batin yang membuat saya mengumpat sendiri, yang terkadang membuat saya menahan napas, yang kadang membuat saya gemas. Saya justru menemukan kebetulan-kebetulan yang sedikit 'maksa', mulai dari Keenan yang bertanya kepada Noni perihal perubahan sikap Kugy. Mulai dari Keenan yang tiba-tiba mengetahui hilangnya Kugy adalah ke rumah Karel. Mulai dari Kugy dan Keenan yang tidak sengaja dipertemukan di tempat-tempat tak terduga seperti pantai tempat mereka pernah mempunyai kenangan. Mulai dari kerelaan hati Remi melepas Kugy di waktu yang hampir bersamaan dengan Luhde yang akhirnya rela melepas Keenan. Saya merasa tokoh Remi dan Luhde terlalu memiliki jiwa malaikat. Saya justru menyukai tokoh Wanda dan Ojos yang real.  Dengan keegoisan yang Dee ciptakan, saya merasa Keenan adalah orang paling plin-plan sedunia. Dan Kugy adalah orang paling jahat yang pernah ada di muka bumi.

Dan saat saya selesai membaca novel ini, kekecewaan saya bertambah. Saya merasa ada sesuatu yang kurang di dalam penyelesaian novel ini. Ada beberapa bagian yang sengaja dibuat menggantung. Tentang mimpi mereka, tentang idealisme yang sejak awal menjadi 'ratu' di setiap cerita. Dan di ending, saya tidak menemukan mimpi itu berlabuh kemana. Hanya menemukan secuil petunjuk samar.

Di awal-awal, saya mengharap ada adegan dimana Keenan menyerahkan pahatan hati yang sempat dia buat untuk Kugy dan Kugy menyerahkan draft dongengnya kepada Keenan. Haha..
*yang ini abaikan*

Namun, di balik itu semua saya menikmati setiap filosofi yang berusaha Dee ungkapkan di novel ini. Filosofi tentang hidup, tentang kejujuran, tentang pengorbanan, tentang mimpi. Mimpi ternyata bisa mengajari kita banyak hal. Dan selama ada tekat dan kemauan mimpi pasti akan menjadi kenyataan. Kita semua hanya butuh kesempatan. :)

Dan sekarang, saya ganti penasaran dengan filmnya. Entah sampai kapan demam Keenan ini akan terus menghantui saya. Haha :))

cheers,
@ao_shy

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Jumat, Agustus 17, 2012

This is just my own sketch. :)

Tidak posting apapun. Hanya ingin mengabadikan ulang sketsa lama ini sebab sampai kapanpun, bermain dengan pensil, buku tulis, buku sketsa, pensil warna, kuas, kanvas, penghapus... tidak akan pernah membosankan.
Baik menulis atau melukis, pada dua dunia yang berbeda itulah saya benar-benar bisa menemukan kebebasan. :)

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Selasa, Agustus 14, 2012

Ia melukis di sebuah ruangan dengan cahaya remang yang berasal dari bohlam tua. Di depannya, selalu ada segelas air putih. Aku tahu sejak awal bahwa ia bukan pecandu kafein seperti apa yang tampak padaku. Selama melukis, ia selalu mengunci pintu seolah ruangan sempit bercat putih itu adalah sebuaj singgasana yang begitu istimewa. Singgasana khusus yang hanya bisa dimasuki oleh ia sendiri. Yang aku ingat, selama melukis ia selalu memutar lagu-lagu lama Beatles dari sebuah piringan tua. Ia menyukai segala hal yang klasik. Karena menurutnya, suasana klasik menyimpan banyak rasa. Seperti cinta, kelembutan dan misteri. Tiga sosok yang aku temukan dalam dirinya.

Semasa umurku belasan tahun. Aku pernah mengintipnya dari balik lubang kunci. Di mana saat itu ia lupa mengunci pintu. Sungguh, seumur-umur ia tidak pernah mengizinkanku memasuki ruangan itu. Hingga pada suatu ketika aku tidak sengaja menyentuh porselin di dekat ruangannya. Porselin itu pecah. Seperti dugaanku, suara berisik itu telah mengacaukan konsentrasinya. Ia dengan sigap langsung menuju pintu. Aku tidak sempat melarikan diri saat ia sudah berdiri di depanku.

Ini mimpi buruk. Tidak ada yang lebih mengerikan saat kau tertangkap basah sedang menguntit diam-diam. Tapi aku bukan penguntit. Aku hanya merasa penasaran dengan kehidupan di balik pintu kayu yang selalu terkunci itu.

Di dalam bayanganku, ia akan marah dan memukulku seperti apa yang biasa ayah lakukan ketika naik pitam. Namun, aku mendapati hal yang sebaliknya. Ia justru membantuku bangkit. Tersenyum dan sepasang matanya teduh. Selama ini aku memang jarang sekali berinteraksi dengannya, mulai saat ia pertama kali menyentuh rumah ini dan menggantikan posisi ibu.

Di dalam mataku, ia adalah seorang wanita yang dingin. Wanita yang sedikit sekali mengeluarkan kata dan lebih banyak mengurung diri di ruangan itu. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya selama kami tinggal satu atap. Ia tidak pernah memeriksa pekerjaan rumahku sepulang sekolah seperti apa yang selalu ibuku lakukan -meski nyatanya aku tidak mengharapkan wanita itu melakukannya, ia tidak pernah mengajakku sarapan bersama, kami tidak pernah menghabiskan hari libur bersama di taman bermain, ia tidak pernah mengecup keningku sebelum aku terlelap, kami juga tidak pernah mengobrol di samping perapian ketika salju pertama di bulan Desember turun.

Ia hanya sesekali mengobrol dan menonton dvd bersama ayah di ruang keluarga.

Sejak awal kedatangannya, aku sudah membencinya. Pertama, karena ia merebut posisi ibu. Kedua, karena ia merebut ayah dariku.

"Apa yang kau lakukan di sini? Masuklah," katanya. Pergelangan tangannya hangat. Ini di luar dugaan. Wanita itu sama sekali tidak memarahiku.

Aku diam. Masih enggan menuruti ajakannya. Aku berlari ke belakang pilar seperti seorang anak ketakutan lalu diam-diam mengintip ke arahnya. Ia belum pergi. Wanita itu masih berdiri di tempatku terjatuh tadi. Ia merapikan pecahan-pecahan porselin akibat ulahku.

Aku masih mengintip dari balik pilar. Merasakan sendiri kecamuk yang menjalar hebat. Aku takut jika ia akan memarahiku seperti apa yang selalu ayah lakukan jika aku bersalah. Aku takut ia akan memukulku atau melakukan apapun yang akan menyakitiku.

Wanita itu berjalan ke arahku. Menemukanku yang tengah ketakutan dari balik pilar dengan wajah pias.

"Aku punya sesuatu untukmu, ikutlah denganku." Suaranya berat dan sedikit serak. Ia berjalan di depanku. Rambutnya yang bergelombang terurai sempurna sebatas pinggang. Ia memakai tunique berwarna tosca dan tidak bisa kupungkiri, ia tampak anggun malam ini.

Akhirnya aku berjalan di belakangnya. Ia mengajakku masuk ke ruangan temaram itu. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat itu setelah belasan tahun mendiami rumah ini.

Aku tercenung. Di dalam ruangan itu banyak lukisan yang memaksaku membelalakkan mata. Ruangan itu lebih mirip galeri daripada sebuah ruangan biasa.

"Aku dan ayahmu bekerja keras membuat ini."

Ia menunjukkan sebuah sketsa bangunan yang teramat besar. Bangunan yang di dalamnya terdapat air mancur dan taman -taman bermain. Seperti istana yang biasa aku lihat di film-film dongeng.

"Seperti janjiku tadi, aku punya sesuatu untukmu." Ia menyerahkan sebuah muffin dengan taburan kismis. "Makanlah.." Ia menyesap air di depannya.

Aku mencium aroma muffin itu, kemudian memakannya.

"Apa kau suka?"

Aku mengangguk dan ia tersenyum. Sebuah senyum yang jarang sekali kulihat. Senyum yang entah kenapa membuat hatiku terasa lega.
Selanjutnya, ia menanyakan banyak hal. Perihal sekolahku, perihal liburan, perihal Natal..

Sejak saat itu ia sering memberiku beberapa potong muffin. Meski aku belum sepenuhnya bisa menerima kehadirannya. Meski aku masih belum bisa menganggapnya ada.
*
Sudah tengah malam dan aku belum bisa terlelap. Aku membiarkan televisi menyala tanpa suara sementara lampu padam. Aku menyesap secangkir kopi dan menikmati muffin yang mendarat di meja kerjaku pagi tadi. Muffin itu bertabur kismis seperti yang biasa ia berikan padaku. Muffin itu masih memiliki rasa yang sama. Dulu, aku begitu tergila-gila pada muffin sejak kali pertama ia memberiku sepotong. Namun, seiring waktu, aku mulai melupakan rasa muffin dan ekspektasiku terhadap muffin berubah sedemikian derajat.

Tatapanku kosong mengarah ke layar televisi. Ini ulang tahunku, setelah sekian lama kuhabiskan bersama teman-teman tanpa bayangan masa lalu. Kini wanita itu membuka kembali luka lama yang sengaja aku kubur. Memunculkan kembali gurat sketsa yang pelan-pelan terhapus di otakku. Membentuk kembali susunan gambar yang jelas meski buram. Mengembalikan rasa muffin setelah sekian lama hilang dari otakku.

"Len, sudah tidur?"
Pada akhirnya pelarianku jatuh pada Lentera. Suaranya sayup  dan hening. Beberapa kali uapnya terdengar di telingaku.
"Aku tidak bisa tidur. Bisakah kau menemaniku ngobrol?"

Lelaki itu tidak pernah menolak permintaanku. Semula aku bisa bercerita apa saja kepada Len seolah ia adalah malaikat pendengar yang baik. Namun, aku belum berani bercerita perihal wanita itu. Juga masa lalu.
Terkadang memang tidak semua hal bisa diceritakan pada seseorang yang dekat sekalipun. Dan aku melakukannya meski aku terkesan membohongi Len dengan cerita-cerita rekaan saat ia bertanya apa yang membuatku terjaga hingga sepagi ini.

Aku merapatkan sweater. Meletakkan muffin yang mulai terasa hambar. Mengucap kata "hallo" entah sudah berapa kali dan tidak mendapati jawaban Len dari seberang sana.
Rupanya Len tertidur. Aku mematikan percakapan. Hening. Dingin. Sendiri. Entah sudah berapa kali aku melarikan diri dari perasaan-perasaan itu. Dan aku mulai sadar. Kali ini aku tidak bisa melarikan diri lagi.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Bulan November. Musim gugur di Leiden tahun ini terasa sangat dingin meski cuaca cerah dan matahari bersinar seterang biasanya. Suhu udara di musim gugur bisa mencapai dibawah 15° pada siang hari. Aku mengenakan mantel tebal berbahan katun yang hangat dan sebuah hoodie berbulu di kepalaku. Hujan turun lebat di awal pekan, membuat jalanan di sepanjang Oud Rijn berubah licin.

Aku mengetukkan jari-jariku seirama jarum jam, menunggu Anne datang. Hari ini kami ada janji bertemu, sekedar membicarakan hal-hal ringan sambil menikmati udara musim gugur dengan secangkir kopi hangat. Pagi ini adalah pagi yang tepat untuk menikmati beberapa helai maple jatuh mengikuti aliran arus Oud Rijn yang tenang, kecipak itik, angsa, serta seagull lewat kaca Annie’s café yang menyisakan butiran gerimis, tempat aku memainkan telinga cangkir latte dengan malas sementara mataku masih belum beralih dari draft di laptopku. 

Masih, artikel itulah yang membayangiku.

Tahun 1896. Susianne Van der Kraaft, balerina yang terbunuh saat pementasan Opera Swan Lake di Stadsschouwburg.

Entah keberapa kalinya aku menyesap latte hingga cairan di cangkir itu sudah terlampau jauh berkurang dari kapasitas sebelumnya. Jarum jam merangkak ke angka 4 ketika kesekian kalinya tidak terlihat bayangan Anne menghiasi pintu masuk itu. Ada hal lain yang mengusikku. Bukan latte yang mendingin, bukan keterlambatan Anne, juga bukan karena Moonlight sonata yang mengalun samar-samar di ruangan ini, melainkan karena wanita bertopi itu.

Ia duduk bersilang di pojok ruangan. Sesekali menghirup rokok melalui gouda yang terbuat dari keramik berwarna susu. Ia mengenakan gaun beludru hitam mengembang dengan lipitan brokat berwarna senada yang dipadukan dengan bordir bulu putih di lengan, lengkap dengan topi lebar dengan beberapa mahkota bunga mawar hitam di salah satu sisinya.

Diam-diam aku menelisik ke dalam matanya, kosong. Bibirnya biru, tapi kurasa ia tidak sedang kedinginan. Dari sekian banyak orang di dalam café, penampilannyalah yang paling menonjol. Dan itu cukup membuatku penasaran.

“Hai Susi, het spijt me dat ik zo laat ben.”

Pandanganku masih belum terlepas dari wanita itu. Aku tertarik mengungkap apa yang ia sembunyikan dari balik mata blue marine miliknya. Bintik-bintik merah di pipinya tersembul samar dari balik topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Asap rokoknya menguar ke udara. Wanita itu menggoyang-goyangkan gelas champagne dengan malas, kemudian menyesapnya pelan-pelan hingga cairan itu menelusuri lehernya. Gerakan lehernya yang naik turun. Leher jenjang dan berwarna merah jambu khas bangsawan Belanda. Dan ia terus mengulangi ritualnya, berkali-kali.

“Susi, hari ini aku sangat bahagia. Aku mendapatkannya. Kau tahu? Aku mendapatkan peran Oddete yang selama ini sangat aku impikan. Ini seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi kenyataan. Kita harus merayakannya.”
Aku diam.

“Susi, maafkan keterlambatanku! Tapi bukan berarti kau lantas mendiamkanku seperti itu saat aku datang!” Anne menekan kalimatnya, membuatku terkesiap. Ia mengerutkan alisnya. Aku gelagapan.

“Oh Ann, neem me niet kwalijk, sejak kapan kau datang?” Aku benar-benar tidak menyadari kehadirannya. Anne menyeret kursi di depanku lalu duduk di atasnya. Posisinya sedikit menghalagi pandanganku pada wanita bertopi itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Ia bertanya penuh selidik, seakan-akan ia tak memberi ruang kepadaku untuk sekedar menghirup nafas dan kembali menetralkan suasana. “Aku mendapatkan peran Oddete, Susi.” Anne mengulang lagi ucapannya.
Bibirnya melengkung karena sebuah senyum simpul yang manis.

“Oh ya? Aku senang mendengarnya, Ann. Kau pantas mendapatkannya.” Aku tersenyum. Tanpa menghiraukan perkataan Anne yang akan terlontar, aku segera menggeser laptopku, menghadapkan layarnya pada gadis bermata coklat itu. “Bacalah.”

Anne memutar bola matanya, menyamping kemudian kembali lagi.

“Siapa Susianne Van der Kraaft?”

Kening Anne basah oleh bulir bening yang perlahan mendingin. Padahal matahari tidak sedang pucat, justru kepucatan itulah yang terpancar pada bola matanya yang memantulkan sinar coklat keemasan. Matanya bergetar, bahkan bulu matanya ikut bergetar, seperti menggigil karena tiupan angin malam di musim dingin.

Aku melihat jelas kebingungan di wajahnya yang seranum tomat. Dan ia tampak lucu dengan ekspresi seperti itu.

“Dia sangat cantik, Ann. Dia menari-nari seperti Swan Lake,” gumamku, “Tapi sayang, dia sudah mati. Seseorang telah membunuhnya!” Aku meronta, terisak lalu mengguncang bahu Anne dengan kecamuk luar biasa.

“Susi!” Anne menjauhkan tubuhnya, melepaskan cengkraman tanganku di bahunya. Alisnya berkerut.

“Kita harus mengungkap misteri kematian itu, Ann.” Aku kembali mendaratkan tanganku ke bahunya, mengguncangnya tidak terlalu keras seperti hendak mengalirkan energi hangat yang mungkin bisa sedikit menenangkan kepanikannya.

Anne mengibaskan syal yang melilit lehernya, juga tanganku, “Ini konyol, Susi!” Alisnya kembali bertatut, “Apa yang sebenarnya kau cari?” Matanya melebar. Aku memberi isyarat agar ia mengecilkan volume suaranya dan ia mengikuti saranku, “Kau gila! Sudah kubilang, aku tidak tahu siapa itu Susianne Van der Kraaft!” Ia menghela nafas sejenak kemudian membuangnya. Mengendorkan posisi duduknya agak menjauh dariku.

“Dengarkan aku dulu, Ann.”

Anne diam, namun aku tahu, matanya menatap jauh ke dalam mataku.

“Aku hanya butuh kunci ruangan kepala sekolah untuk mengungkap semuanya.”

“Kau gila!” Seluruh orang di café mendelik ke arah kami dan Anne menunduk sebagai ucapan maaf karena mengeluarkan suara yang terlalu keras. “Kepala sekolah akan membunuh kita.” Ia berbisik, “Apa kau tak pernah mendengar perkataannya bahwa kita tidak boleh memasuki ruangannya?” Ia berkata seolah-olah perkataan kepala sekolah adalah mutlak dan kami harus selalu menuruti apa yang ia ucapkan. Sebuah teori yang bodoh dan sedikit ortoriter, dan aku tak pernah suka jenis paham seperti itu.

“Untuk itulah kita perlu menyelinap, diam-diam.” Aku melukiskan senyum yang membuat Anne menelengkan kepalanya berkali-kali. “Aku hanya butuh arsip video balet yang disimpan kepala sekolah. Juga beberapa artikel.”

“Sepenting itukah hingga kau mempertaruhkan nyawamu?”

Aku mengangguk, “Tidak ada cara lain.”

“Apa yang membuatmu begitu penasaran, Susi? Bukankah kematian Susianne Van der Kraaft sama sekali tak ada hubungannya denganmu?”

Anne masih tetap menyorot mataku dengan tatapan yang menyerupai belati.

“Kau akan tahu nanti.” Aku berusaha menghindari tatapan matanya dengan mengalihkan mataku pada kursi di sudut ruangan. Dan aku baru menyadarinya, wanita bertopi itu sudah menghilang.

*

Ruangan kamar sengaja aku biarkan tanpa penerangan saat aku memutar video Opera Swan Lake lewat dvd di samping jendela. Jus jeruk masih menghiasi sebagian pemandangan di meja dengan artikel-artikel tentang Susianne yang aku buat, juga kaset-kaset yang sengaja aku biarkan tercecer. Di layar tampak balerina-balerina dengan gerakan-gerakan yang indah itu. Posisi berdiri yang sempurna dengan point shoe, juga menari dengan bermacam-macam gerakan yang menggambarkan keluwesan, kehalusan dan emosi. Aku selalu menyukai seni balet, tak terkecuali simfoni Tchaikovsky yang sering membuat tubuhku meremang.

Swan Lake Ballet who will be performing at the De Nederlandse Opera
Saturday evening
November 23, 1996
07.30 p.m
Special performing by Anne Hazeu

Aku menatap lembaran itu lalu membuangnya dengan asal. Yang aku sukai saat menikmati opera balet adalah membiarkan kesepian menyelimutiku. Merasakan irama musik itu hanyut, merasakan perbincangan-perbincangan hangat juga keriuhan-keriuhan penonton di dalam gedung yang selalu saja mengusik telingaku. Aku seperti berada di dalam video itu, di ruangan megah yang menyenangkan. Jiwaku, bahkan seluruh tubuhku seperti berada di tengah-tengah mereka. Bahkan aku pernah merasakan berada di panggung itu, menari dengan lincah mengenakan tutu berwarna putih dengan hiasan bulu-bulu. Juga menerima karangan bunga, tersenyum gembira saat semua penonton memberikan standing applause untukku. Luar biasa, seolah akulah ratu angsa itu.

Dalam kesepian kamar yang gelap, aku merasakan sebuah keriuhan yang benar-benar menyedot seluruh pikiranku dan energiku. Suara-suara dan kecamuk luar biasa mulai menguasaiku. Berdengung seperti lebah. Aku meronta, merasakan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.

Aku seperti dikuasai oleh makhluk lain, ia menjeratku dan ia terikat di sana. Setelahnya, aku akan menggigil, merasakan kepala yang terlampau sakit lalu aku limbung dengan kegugupan yang memberontak.

Keringat dingin melumer, kepalaku sakit. Dan dalam keadaan seperti itu, aku kembali melihatnya : wanita bertopi hitam itu.

*

“Kita hanya butuh artikel dan video itu untuk mengungkap semuanya.” Bulan masih sembab ketika aku dan Anne mengendap-endap masuk ke ruangan kepala sekolah, membuka pintunya dengan sebuah kawat.

“Kepala sekolah akan membunuh kita, Susi!” Anne menyorotkan cahaya ke lubang kunci lewat senter di tangannya. Sungguh, aku tidak pernah suka cuaca dingin di musim gugur yang harus memaksaku mengenakan sarung tangan bulu yang tebal. Kami masih berbisik-bisik seperti penguntit.

“Aku akan bertanggung jawab untuk itu, Ann. Kau tak perlu panik.” Aku menghembuskan nafas, “Setelah kita mendapat artikel itu, kita akan pergi dari ruangan ini. Segera!” Pintu berhasil kubuka tanpa kendala apapun. Kawat itu bekerja baik malam ini,

“Matikan sentermu, ayo kita masuk.”

Ruangan kepala sekolah gelap, dipenuhi rak-rak buku yang menjulang ke langit-langit. “Gila! Buku sebanyak ini, mana yang harus kita cari?” Aku mengikuti pendar cahaya yang berasal dari senter Anne. Ia tampak menelengkan kepalanya, “Ini misi konyol!”

“Aku selalu dihantui wanita itu, Ann. Aku harus mengungkap apa yang membuatnya mati di pementasan.”

Aku tahu Anne terkejut dengan pernyataanku, “Tidak ada waktu lagi, bantu aku mencari artikel tentang wanita itu.” Mata Anne tampak gelap.

Aku masih menelisik, mengobrak-abrik seluruh rak buku kepala sekolah.

“Sekolah seperti menyembunyikan skandal pembunuhan Susianne. Dan wanita itu akan selamanya menjadi teror jika kita tidak mengungkap kematiannya.”

Anne menghentikan sejenak aktivitasnya. Dalam keremangan itu, ia menatapku tajam.

“Ini terkait peranmu sebagai Oddete, Ann,” kataku, “Aku tidak bisa membiarkanmu mati seperti apa yang dialami Susianne Van der Kraaft tahun 1896 itu. Aku juga tidak bisa membiarkan ada perang darah dalam balet.”

“Kau berkata seolah kau menyimpan sesuatu yang tidak aku tahu, Susi.”

“Aku mencintai balet sepenuh hatiku, Ann. Bahkan aku rela melakukan apapun demi cintaku pada balet.” Aku menghindari tatapan mata Anne yang seperti itu. Selalu, aku tidak bisa membalas tatapan menyelidiknya.

Kualihakan tubuhku menjauh darinya, menuju sebuah lukisan yang tergantung rapi di sudut ruangan. Aku mengenal wanita dalam lukisan itu. Wanita yang sama dengan apa yang aku lihat dalam Annie’s café beberapa waktu lalu. Wanita yang setiap malam menerorku dengan  kehadirannya yang tiba-tiba. Wanita bertopi itu. Susianne Van der Kraaft.

Aku mengelus lukisan itu, seperti aku telah benar-benar menyentuh wajahnya dengan tanganku.

“Susi, kenapa kau meraba dinding-dinging kosong itu?” Suara Anne menyadarkanku. Ia menyorotkan cahaya pada buku yang ada di tangannya. “Susianne tidak dibunuh. Karena memang tak ada nama itu,” katanya.

Dan saat itu juga aku melihat wanita bertopi itu. Ia mendekatiku, masih membawa gouda yang mengepulkan asap putih rokoknya. Ia tertawa. Kepulan asap dari rokoknya terlihat jelas. Dan perlahan dadaku menjadi sangat sesak.

“Peran itu harusnya jadi milikmu.” Bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Aku melihat jelas matanya yang selama ini tertutup topi lebar berwarna hitam itu. Ia menghembuskan asap rokoknya tepat mengenai wajahku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, bahkan pikiranku. Wanita itu menguasaiku lagi, benar-benar menguasaiku.

“Bunuh dia! Jangan biarkan dia mendapatkan peran itu, bunuh dia sekarang juga.” Terus seperti itu. Suara-suara itu. Bayangan masa lalu itu semakin jelas. Menjadi balerina adalah impianku sejak kecil. Aku rela melakukan apa saja demi balet, merelakan kakiku yang lecet akibat tidak biasa mengenakan point shoe, mengalami cidera tulang karena aku tidak bisa melenturkan tubuhku. Aku bersusah payah belajar fouttes en tournant, pointe work, voete. Berusaha mendapatkan peran Oddete, sang Ratu Angsa. Dan ketika aku berhasil mendapatkannya, mereka mengambilnya. Aku adalah satu-satunya orang yang tersungkur dalam kemegahan Stadsschouwburg malam itu. Aku menangis, dalam sebuah ruang gelap yang pengap, sendiri saja.

Lagi, mimpi itu kembali menerorku. Silih berganti seperti sebuah scene-scene yang gelap. Kemudian menerobos ke dalam pembuluh darahku, menuju otakku dan berputar-putar di sana. Aku meringkuk dalam sebuah ruangan tanpa cahaya, masih dengan alunan simfoni Swan Lake yang membuat sakit di kepalaku nyaris bertambah.

Aku seperti orang kesetanan. Entah siapa yang mengacaukan pikiranku hingga aku mampu mengobrak-abrik seluruh laci meja kepala sekolah, menemukan sebuah pistol yang kemudian aku arahkan tepat ke matanya. Aku membenci mata biru itu, suara-suara itu, wanita bertopi itu. Aku tidak ingin karangan bohongku soal Susianne dan skandal berkedok kepala sekolah yang aku buat terkuak begitu saja. Selamanya, peran itu akan tetap jadi milikku.

Aku menarik pelatuk, tapi kemudian muncul bayangan Anne yang menatapku dengan mata membulat. Mulutnya menganga.

“Susi, what are you doing?” Ia terpekik, senter yang ia bawa jatuh ke lantai bersamaan dengan suara letupan pistol.

Lalu dalam sekejap, simfoni Swan Lake menggema memenuhi pikiranku, tanpa suara Anne.

Madiun, April 2011

Published with Blogger-droid v2.0.6