Rasanya
sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya;
tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.
Segera
setelah semua berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.
Itulah
yang dikatakannya sebelum dia pergi. Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu,
menanti dalam harap. Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa
alamat darinya. Kini di tempat yang sama, aku mengurai kembali
kenangan-kenangan itu...
Beberapa
bulan yang lalu, saat berada dalam gerbong Gayabaru jurusan Jakarta-Surabaya,
saya mendapat tempat duduk tepat di samping seorang bergaya nyentrik yang akan
melanjutkan perjalanan ke Bali. Dia yang pertama kali membuka percakapan dan
ngoceh panjang lebar tapi kami tidak sempat berkenalan. Mungkin melalui sandal
gunung yang saya kenakan itulah dia mengetahui bahwa saya suka melakukan
perjalanan. Dan dia mulai bertanya pada saya, pertanyaan yang pada akhirnya membuat
perjalanan Jakarta-Surabaya itu terasa semakin akrab.
“Suka
naik gunung?”
Saya terkejut.
Saya jadi ingat niat saya untuk naik gunung saat masih SMA tapi tidak pernah
mendapat izin dari orang tua. “Suka, tapi tidak pernah boleh.” Saya jujur. “Suka
naik gunung juga?”
“Sudah
jadi makanan sehari-hari.”
Dan saya
merasa sebangku dengan orang yang tepat. Dia lalu menceritakan pengalamannya
mendaki beberapa puncak gunung dan dia bercerita tentang obsesinya mendaki
Rinjani. Saya hanya menjadi pendengar yang baik sekaligus membayangkan apa yang
dia ceritakan di benak saya. Saat itu saya sedang membaca Catatan Seorang
Demonstran, dan dia antusias.
Belakangan
ini saya kehilangan fokus menulis lagi setelah beberapa waktu yang lalu saya
berhasil menambah satu halaman lagi dari halaman sebelumnya. Ya, satu halaman
yang bagi saya sangat berharga. Satu halaman yang saya tulis dengan
mengendapkan draft selama beberapa hari lamanya, bahkan banyak hari hingga saya
nyaris lupa akan kemana jalan cerita dari draft yang sedang saya tulis ini.
Saya kehilangan
fokus bukan karena pekerjaan saya atau lingkungan saya yang berganti. Saya juga
tidak punya alasan untuk menyalahkan kedua situasi rumit itu untuk mencari perlindungan
dari waktu yang telah saya tetapkan sendiri dalam menyelesaikan draft yang
selama ini telah menyita sebagian isi kepala saya. Tapi saya merasa, saya jauh
lebih khawatir daripada sebelumnya. Saya merasa cemas terhadap diri saya
sendiri, terhadap tulisan-tulisan saya yang berdampak pada tingkat kepercayaan
diri saya yang anjlok secara drastis. Mood saya yang berantakan entah karena
apa. Semangat yang menyurut yang membuat saya cepat bosan dengan segala sesuatu.
Dan untuk itulah saya lebih suka melamun, mendengarkan lagu atau duduk di depan
laptop hanya memandangi beranda yang berisi hal yang sama setiap harinya. Atau
jika waktu libur yang berharga itu tiba, saya akan naik kereta. Sekedar naik
saja, tidak peduli siapa yang akan saya temui setelah kereta tiba di stasiun
tujuan. Saya jenuh luar biasa dan mungkin itulah yang membuat saya terlihat
linglung belakangan ini. Saya merasa harus berpindah tapi tidak tahu harus
kemana. Saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri yang mulai jarang sekali saya
dapatkan. Saya seperti terikat oleh sesuatu yang bahkan saya sendiri tidak tahu
apa yang tengah mengikat saya. Seperti ada banyak aturan yang membebani kepala
saya meski nyatanya tidak seorang pun yang memaksa saya.
Sepulang
kerja, seorang teman (yang sengaja saya sensor namanya dan semoga dia tidak
marah :P ) tiba-tiba mengajak saya nonton. Alhasil, setelah molor dari waktu
yang telah disepakati karena saya telat, jadilah kita nonton Gravity yang
―menurut teman saya itu―punya treaser keren di Prambors. Dan karena saya jarang
nonton dan sudah mulai jadi robot kuper, akhirnya saya ikut saja.
Dibintangi
oleh Sandra Bullock dan George Clooney yang sama-sama peraih Oscar, Gravity
bercerita tentang Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan astronot berpengalaman Matt
Kowalski (George Clooney) yang memiliki misi untuk NASA yaitu memasang
prototipe (semacam software) pada sebuah satelit luar angkasa Amerika. Namun,
saat sedang menjalankan misi tersebut, sebuah satelit milik Rusia meledak dan
membuat pesawat Explorer mereka hancur karena terkena gumpalan-gumpalan satelit
berkecepatan tinggi. Kecelakaan itu tak pelak membuat Dr. Stone terlempar jauh
keluar orbit bumi dengan oksigen yang terbatas. Dan dengan harapan yang nyaris
putus saat itu juga, Matt berhasil menemukannya dalam keadaan oksigen yang
menipis. Tidak mau mengundur lagi agenda
kepulangan yang sempat tertunda itu, mereka memutuskan untuk pergi mencari kru
luar angasa NASA untuk pulang ke bumi, namun nihil. Muncul harapan saat mereka
melihat stasiun luar angkasa Cina yang tidak hancur. Di sinilah drama masa lalu
itu terjadi. Dalam perjalanan menggunakan jet menuju stasiun transmisi Cina,
mereka berdua bercerita perihal masa lalu. Dr. Stone yang mengalami trauma
pasca kehilangan putrinya, memutuskan untuk pergi ke luar angkasa demi mencari keheningan.
Sementara Matt sangat merindukan keluarganya saat berada di luar angkasa.
Percakapan itu tidak berlangsung lama sebab persedian oksigen yang dimiliki Dr.
Stone menurun drastis. Saat mulai mendekati stasiun itu lagi-lagi, kecelakaan
menimpa mereka dan membuat Dr. Stone dan Matt akhirnya terpisah.
Lalu,
apa mereka bisa kembali lagi ke bumi dalam kondisi selamat?
Setelah kurang lebih dua tahun
menghuni kost yang lama, saya akhirnya memutuskan pindah pada Jumat malam
kemarin. Betapa tidak biasa meninggalkan segala rutinitas yang selama dua tahun
itu tidak pernah berubah, untuk menjalani rutinitas baru dengan lingkungan yang
baru pula. Maklum, saya adalah tipe yang tidak menyukai jenis adaptasi apapun.
Jika boleh memilih, maka saya ingin pindah ke tempat yang tidak usah
mengharuskan seseorang beradaptasi. Tapi, jelas itu tidak mungkin. Sebab saya
tercipta sebagai makhluk sosial, bekerja di lingkungan sosial, meskipun
nyatanya saya mengidap gejala antisosial.