Selasa, Agustus 14, 2012

Bulan November. Musim gugur di Leiden tahun ini terasa sangat dingin meski cuaca cerah dan matahari bersinar seterang biasanya. Suhu udara di musim gugur bisa mencapai dibawah 15° pada siang hari. Aku mengenakan mantel tebal berbahan katun yang hangat dan sebuah hoodie berbulu di kepalaku. Hujan turun lebat di awal pekan, membuat jalanan di sepanjang Oud Rijn berubah licin.

Aku mengetukkan jari-jariku seirama jarum jam, menunggu Anne datang. Hari ini kami ada janji bertemu, sekedar membicarakan hal-hal ringan sambil menikmati udara musim gugur dengan secangkir kopi hangat. Pagi ini adalah pagi yang tepat untuk menikmati beberapa helai maple jatuh mengikuti aliran arus Oud Rijn yang tenang, kecipak itik, angsa, serta seagull lewat kaca Annie’s café yang menyisakan butiran gerimis, tempat aku memainkan telinga cangkir latte dengan malas sementara mataku masih belum beralih dari draft di laptopku. 

Masih, artikel itulah yang membayangiku.

Tahun 1896. Susianne Van der Kraaft, balerina yang terbunuh saat pementasan Opera Swan Lake di Stadsschouwburg.

Entah keberapa kalinya aku menyesap latte hingga cairan di cangkir itu sudah terlampau jauh berkurang dari kapasitas sebelumnya. Jarum jam merangkak ke angka 4 ketika kesekian kalinya tidak terlihat bayangan Anne menghiasi pintu masuk itu. Ada hal lain yang mengusikku. Bukan latte yang mendingin, bukan keterlambatan Anne, juga bukan karena Moonlight sonata yang mengalun samar-samar di ruangan ini, melainkan karena wanita bertopi itu.

Ia duduk bersilang di pojok ruangan. Sesekali menghirup rokok melalui gouda yang terbuat dari keramik berwarna susu. Ia mengenakan gaun beludru hitam mengembang dengan lipitan brokat berwarna senada yang dipadukan dengan bordir bulu putih di lengan, lengkap dengan topi lebar dengan beberapa mahkota bunga mawar hitam di salah satu sisinya.

Diam-diam aku menelisik ke dalam matanya, kosong. Bibirnya biru, tapi kurasa ia tidak sedang kedinginan. Dari sekian banyak orang di dalam café, penampilannyalah yang paling menonjol. Dan itu cukup membuatku penasaran.

“Hai Susi, het spijt me dat ik zo laat ben.”

Pandanganku masih belum terlepas dari wanita itu. Aku tertarik mengungkap apa yang ia sembunyikan dari balik mata blue marine miliknya. Bintik-bintik merah di pipinya tersembul samar dari balik topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Asap rokoknya menguar ke udara. Wanita itu menggoyang-goyangkan gelas champagne dengan malas, kemudian menyesapnya pelan-pelan hingga cairan itu menelusuri lehernya. Gerakan lehernya yang naik turun. Leher jenjang dan berwarna merah jambu khas bangsawan Belanda. Dan ia terus mengulangi ritualnya, berkali-kali.

“Susi, hari ini aku sangat bahagia. Aku mendapatkannya. Kau tahu? Aku mendapatkan peran Oddete yang selama ini sangat aku impikan. Ini seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi kenyataan. Kita harus merayakannya.”
Aku diam.

“Susi, maafkan keterlambatanku! Tapi bukan berarti kau lantas mendiamkanku seperti itu saat aku datang!” Anne menekan kalimatnya, membuatku terkesiap. Ia mengerutkan alisnya. Aku gelagapan.

“Oh Ann, neem me niet kwalijk, sejak kapan kau datang?” Aku benar-benar tidak menyadari kehadirannya. Anne menyeret kursi di depanku lalu duduk di atasnya. Posisinya sedikit menghalagi pandanganku pada wanita bertopi itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Ia bertanya penuh selidik, seakan-akan ia tak memberi ruang kepadaku untuk sekedar menghirup nafas dan kembali menetralkan suasana. “Aku mendapatkan peran Oddete, Susi.” Anne mengulang lagi ucapannya.
Bibirnya melengkung karena sebuah senyum simpul yang manis.

“Oh ya? Aku senang mendengarnya, Ann. Kau pantas mendapatkannya.” Aku tersenyum. Tanpa menghiraukan perkataan Anne yang akan terlontar, aku segera menggeser laptopku, menghadapkan layarnya pada gadis bermata coklat itu. “Bacalah.”

Anne memutar bola matanya, menyamping kemudian kembali lagi.

“Siapa Susianne Van der Kraaft?”

Kening Anne basah oleh bulir bening yang perlahan mendingin. Padahal matahari tidak sedang pucat, justru kepucatan itulah yang terpancar pada bola matanya yang memantulkan sinar coklat keemasan. Matanya bergetar, bahkan bulu matanya ikut bergetar, seperti menggigil karena tiupan angin malam di musim dingin.

Aku melihat jelas kebingungan di wajahnya yang seranum tomat. Dan ia tampak lucu dengan ekspresi seperti itu.

“Dia sangat cantik, Ann. Dia menari-nari seperti Swan Lake,” gumamku, “Tapi sayang, dia sudah mati. Seseorang telah membunuhnya!” Aku meronta, terisak lalu mengguncang bahu Anne dengan kecamuk luar biasa.

“Susi!” Anne menjauhkan tubuhnya, melepaskan cengkraman tanganku di bahunya. Alisnya berkerut.

“Kita harus mengungkap misteri kematian itu, Ann.” Aku kembali mendaratkan tanganku ke bahunya, mengguncangnya tidak terlalu keras seperti hendak mengalirkan energi hangat yang mungkin bisa sedikit menenangkan kepanikannya.

Anne mengibaskan syal yang melilit lehernya, juga tanganku, “Ini konyol, Susi!” Alisnya kembali bertatut, “Apa yang sebenarnya kau cari?” Matanya melebar. Aku memberi isyarat agar ia mengecilkan volume suaranya dan ia mengikuti saranku, “Kau gila! Sudah kubilang, aku tidak tahu siapa itu Susianne Van der Kraaft!” Ia menghela nafas sejenak kemudian membuangnya. Mengendorkan posisi duduknya agak menjauh dariku.

“Dengarkan aku dulu, Ann.”

Anne diam, namun aku tahu, matanya menatap jauh ke dalam mataku.

“Aku hanya butuh kunci ruangan kepala sekolah untuk mengungkap semuanya.”

“Kau gila!” Seluruh orang di café mendelik ke arah kami dan Anne menunduk sebagai ucapan maaf karena mengeluarkan suara yang terlalu keras. “Kepala sekolah akan membunuh kita.” Ia berbisik, “Apa kau tak pernah mendengar perkataannya bahwa kita tidak boleh memasuki ruangannya?” Ia berkata seolah-olah perkataan kepala sekolah adalah mutlak dan kami harus selalu menuruti apa yang ia ucapkan. Sebuah teori yang bodoh dan sedikit ortoriter, dan aku tak pernah suka jenis paham seperti itu.

“Untuk itulah kita perlu menyelinap, diam-diam.” Aku melukiskan senyum yang membuat Anne menelengkan kepalanya berkali-kali. “Aku hanya butuh arsip video balet yang disimpan kepala sekolah. Juga beberapa artikel.”

“Sepenting itukah hingga kau mempertaruhkan nyawamu?”

Aku mengangguk, “Tidak ada cara lain.”

“Apa yang membuatmu begitu penasaran, Susi? Bukankah kematian Susianne Van der Kraaft sama sekali tak ada hubungannya denganmu?”

Anne masih tetap menyorot mataku dengan tatapan yang menyerupai belati.

“Kau akan tahu nanti.” Aku berusaha menghindari tatapan matanya dengan mengalihkan mataku pada kursi di sudut ruangan. Dan aku baru menyadarinya, wanita bertopi itu sudah menghilang.

*

Ruangan kamar sengaja aku biarkan tanpa penerangan saat aku memutar video Opera Swan Lake lewat dvd di samping jendela. Jus jeruk masih menghiasi sebagian pemandangan di meja dengan artikel-artikel tentang Susianne yang aku buat, juga kaset-kaset yang sengaja aku biarkan tercecer. Di layar tampak balerina-balerina dengan gerakan-gerakan yang indah itu. Posisi berdiri yang sempurna dengan point shoe, juga menari dengan bermacam-macam gerakan yang menggambarkan keluwesan, kehalusan dan emosi. Aku selalu menyukai seni balet, tak terkecuali simfoni Tchaikovsky yang sering membuat tubuhku meremang.

Swan Lake Ballet who will be performing at the De Nederlandse Opera
Saturday evening
November 23, 1996
07.30 p.m
Special performing by Anne Hazeu

Aku menatap lembaran itu lalu membuangnya dengan asal. Yang aku sukai saat menikmati opera balet adalah membiarkan kesepian menyelimutiku. Merasakan irama musik itu hanyut, merasakan perbincangan-perbincangan hangat juga keriuhan-keriuhan penonton di dalam gedung yang selalu saja mengusik telingaku. Aku seperti berada di dalam video itu, di ruangan megah yang menyenangkan. Jiwaku, bahkan seluruh tubuhku seperti berada di tengah-tengah mereka. Bahkan aku pernah merasakan berada di panggung itu, menari dengan lincah mengenakan tutu berwarna putih dengan hiasan bulu-bulu. Juga menerima karangan bunga, tersenyum gembira saat semua penonton memberikan standing applause untukku. Luar biasa, seolah akulah ratu angsa itu.

Dalam kesepian kamar yang gelap, aku merasakan sebuah keriuhan yang benar-benar menyedot seluruh pikiranku dan energiku. Suara-suara dan kecamuk luar biasa mulai menguasaiku. Berdengung seperti lebah. Aku meronta, merasakan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.

Aku seperti dikuasai oleh makhluk lain, ia menjeratku dan ia terikat di sana. Setelahnya, aku akan menggigil, merasakan kepala yang terlampau sakit lalu aku limbung dengan kegugupan yang memberontak.

Keringat dingin melumer, kepalaku sakit. Dan dalam keadaan seperti itu, aku kembali melihatnya : wanita bertopi hitam itu.

*

“Kita hanya butuh artikel dan video itu untuk mengungkap semuanya.” Bulan masih sembab ketika aku dan Anne mengendap-endap masuk ke ruangan kepala sekolah, membuka pintunya dengan sebuah kawat.

“Kepala sekolah akan membunuh kita, Susi!” Anne menyorotkan cahaya ke lubang kunci lewat senter di tangannya. Sungguh, aku tidak pernah suka cuaca dingin di musim gugur yang harus memaksaku mengenakan sarung tangan bulu yang tebal. Kami masih berbisik-bisik seperti penguntit.

“Aku akan bertanggung jawab untuk itu, Ann. Kau tak perlu panik.” Aku menghembuskan nafas, “Setelah kita mendapat artikel itu, kita akan pergi dari ruangan ini. Segera!” Pintu berhasil kubuka tanpa kendala apapun. Kawat itu bekerja baik malam ini,

“Matikan sentermu, ayo kita masuk.”

Ruangan kepala sekolah gelap, dipenuhi rak-rak buku yang menjulang ke langit-langit. “Gila! Buku sebanyak ini, mana yang harus kita cari?” Aku mengikuti pendar cahaya yang berasal dari senter Anne. Ia tampak menelengkan kepalanya, “Ini misi konyol!”

“Aku selalu dihantui wanita itu, Ann. Aku harus mengungkap apa yang membuatnya mati di pementasan.”

Aku tahu Anne terkejut dengan pernyataanku, “Tidak ada waktu lagi, bantu aku mencari artikel tentang wanita itu.” Mata Anne tampak gelap.

Aku masih menelisik, mengobrak-abrik seluruh rak buku kepala sekolah.

“Sekolah seperti menyembunyikan skandal pembunuhan Susianne. Dan wanita itu akan selamanya menjadi teror jika kita tidak mengungkap kematiannya.”

Anne menghentikan sejenak aktivitasnya. Dalam keremangan itu, ia menatapku tajam.

“Ini terkait peranmu sebagai Oddete, Ann,” kataku, “Aku tidak bisa membiarkanmu mati seperti apa yang dialami Susianne Van der Kraaft tahun 1896 itu. Aku juga tidak bisa membiarkan ada perang darah dalam balet.”

“Kau berkata seolah kau menyimpan sesuatu yang tidak aku tahu, Susi.”

“Aku mencintai balet sepenuh hatiku, Ann. Bahkan aku rela melakukan apapun demi cintaku pada balet.” Aku menghindari tatapan mata Anne yang seperti itu. Selalu, aku tidak bisa membalas tatapan menyelidiknya.

Kualihakan tubuhku menjauh darinya, menuju sebuah lukisan yang tergantung rapi di sudut ruangan. Aku mengenal wanita dalam lukisan itu. Wanita yang sama dengan apa yang aku lihat dalam Annie’s café beberapa waktu lalu. Wanita yang setiap malam menerorku dengan  kehadirannya yang tiba-tiba. Wanita bertopi itu. Susianne Van der Kraaft.

Aku mengelus lukisan itu, seperti aku telah benar-benar menyentuh wajahnya dengan tanganku.

“Susi, kenapa kau meraba dinding-dinging kosong itu?” Suara Anne menyadarkanku. Ia menyorotkan cahaya pada buku yang ada di tangannya. “Susianne tidak dibunuh. Karena memang tak ada nama itu,” katanya.

Dan saat itu juga aku melihat wanita bertopi itu. Ia mendekatiku, masih membawa gouda yang mengepulkan asap putih rokoknya. Ia tertawa. Kepulan asap dari rokoknya terlihat jelas. Dan perlahan dadaku menjadi sangat sesak.

“Peran itu harusnya jadi milikmu.” Bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Aku melihat jelas matanya yang selama ini tertutup topi lebar berwarna hitam itu. Ia menghembuskan asap rokoknya tepat mengenai wajahku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, bahkan pikiranku. Wanita itu menguasaiku lagi, benar-benar menguasaiku.

“Bunuh dia! Jangan biarkan dia mendapatkan peran itu, bunuh dia sekarang juga.” Terus seperti itu. Suara-suara itu. Bayangan masa lalu itu semakin jelas. Menjadi balerina adalah impianku sejak kecil. Aku rela melakukan apa saja demi balet, merelakan kakiku yang lecet akibat tidak biasa mengenakan point shoe, mengalami cidera tulang karena aku tidak bisa melenturkan tubuhku. Aku bersusah payah belajar fouttes en tournant, pointe work, voete. Berusaha mendapatkan peran Oddete, sang Ratu Angsa. Dan ketika aku berhasil mendapatkannya, mereka mengambilnya. Aku adalah satu-satunya orang yang tersungkur dalam kemegahan Stadsschouwburg malam itu. Aku menangis, dalam sebuah ruang gelap yang pengap, sendiri saja.

Lagi, mimpi itu kembali menerorku. Silih berganti seperti sebuah scene-scene yang gelap. Kemudian menerobos ke dalam pembuluh darahku, menuju otakku dan berputar-putar di sana. Aku meringkuk dalam sebuah ruangan tanpa cahaya, masih dengan alunan simfoni Swan Lake yang membuat sakit di kepalaku nyaris bertambah.

Aku seperti orang kesetanan. Entah siapa yang mengacaukan pikiranku hingga aku mampu mengobrak-abrik seluruh laci meja kepala sekolah, menemukan sebuah pistol yang kemudian aku arahkan tepat ke matanya. Aku membenci mata biru itu, suara-suara itu, wanita bertopi itu. Aku tidak ingin karangan bohongku soal Susianne dan skandal berkedok kepala sekolah yang aku buat terkuak begitu saja. Selamanya, peran itu akan tetap jadi milikku.

Aku menarik pelatuk, tapi kemudian muncul bayangan Anne yang menatapku dengan mata membulat. Mulutnya menganga.

“Susi, what are you doing?” Ia terpekik, senter yang ia bawa jatuh ke lantai bersamaan dengan suara letupan pistol.

Lalu dalam sekejap, simfoni Swan Lake menggema memenuhi pikiranku, tanpa suara Anne.

Madiun, April 2011

Published with Blogger-droid v2.0.6

Sepaket muffin dan surat tanpa nama sudah berada di mejaku pagi itu. Pagi buta karena aku harus berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Kubikel berwarna abu-abu di sekitarku masih sepi. Saat aku membuka kotak muffin itu, aku mendapati aroma segar adonan yang sepertinya baru saja dikeluarkan dari oven. Lalu surat itu diletakkan menyatu dengan kardus pembungkus muffin yang berwarna kecoklatan. Surat itu dibungkus amplop warna nila tanpa hiasan apa-apa. Dan sebuah kalimat sederhana tercetak miring di kertas yang berwarna serupa.

Selamat ulang tahun, An.

Tanpa nama terang. Tanpa tanda tangan. Tanpa identitas apapun. Entah siapa yang mengirimiku paket muffin sepagi itu. Bahkan lebih pagi dari jam kedatangan karyawan di rumah mungil itu.

Aku selalu menyebutnya rumah mungil. Tempat dimana semua desain-desainku lahir. Ruangan itu tidak terlalu luas. Berbentuk persegi biasa dengan kubikel-kubikel yang berjajar rapat. Sepasang jendela lebar berada di sudut ruangan. Dimana pemandangan Oslo terlihat jelas dari sana. Saat lembur, aku suka menatap lampu malam dengan secangkir coklat panas. Di sana juga terlihat jelas hujan dan salju yang turun dari langit. Aku tidak tahu siapa yang mendesain ruangan itu. Meski penempatan jendela lebar itu terasa ganjil, tapi itulah sudut yang paling aku suka.

Kembali perhatianku tertuju pada muffin itu. Aku menatapnya cukup lama dengan perasaan campur aduk. Semua barang kiriman yang mendarat di mejaku seolah melemparkanku ke masa lalu. Seperti krisan yang selalu Len siapkan sebelum kedatanganku. Dan kali ini muffin.

"Len, sedang dimana?" Telepon tersambung. Suara Len tertelan hujan. Rupanya hujan turun di tempatnya sekarang. Berbeda dengan tempatku. "Kau tahu siapa yang mengirimiku muffin sepagi ini?" Aku menunggu jawaban Len dan ia nampak tidak mengerti ucapanku. "Oh.. oke Len. Maaf sudah menelfonmu sepagi ini. Oh, tidak apa-apa. Haha, kau harus mentraktirku dua kali lipat kalau begitu. Oke, thank you." Telepon mati. Len sama sekali tidak mengerti perihal muffin ini.
*
Hujan pada akhirnya mengguyur tanpa ampun. Aku pulang terlambat. Dan ketika sampai di apartemen, hari sudah larut. Ulang tahun seharusnya kuhabiskan dengan makan bersama teman-teman di kafe langganan kami, tapi aku justru kepayahan karena kerja lembur harus menguras tenagaku. Aku membantu Nick mengerjakan desain untuk wanita yang katanya berasal dari Indonesia. Tunggu, meski dulu aku pernah mempunyai hubungan dengan Nick, kami tetap bekerja profesional dan semua sudah kembali seperti semula. Nick tak lebih dari partner yang menyenangkan. Dan aku menganggap seolah tak pernah terjadi apa-apa, begitu juga dengannya.

Aku melepas sepatu dan menyalakan lampu apartemen. Meletakkan muffin yang belum kusentuh sama sekali di atas meja tamu kemudian melepaskan mantel yang basah. Belakangan, hujan memang jarang diprediksi. Dan itu sangat merepotkan.

Saat aku hendak ke lemari es mengambil sekaleng cola, aku melihat lampu telepon berkedip. Pesan masuk.

Pesan pertama adalah dari Nick, ia mengucapkan terimakasih atas kerjaku malam ini dan ia berjanji akan mengenalkan wanita itu padaku suatu saat nanti. Sejujurnya hal itu tidak penting sama sekali. Pesan kedua, dari Len yang menawarkan akan mentraktir di sebuah restoran sushi karena ia mendapat proyek baru. Pesan ketiga yang membuat tenggorokanku tercekat.

Hai An.. apa kabarmu? Aku mendapat nomor ini dari seseorang yang dekat denganmu. Selamat ulang tahun, apa kau sudah menerima muffin itu?

Aku menghentikan pesan itu. Segalanya berubah hening. Hanya suara hujan yang masih bergemericik di luar jendela. Dan suara wanita itu yang masih berdengung di telingaku. Wanita yang pelan-pelan kukubur dalam kenangan. Wanita yang berasal dari masa lalu.

Dengan keberanian yang perlahan kuciptakan, aku melanjutkan pesan itu. Semua terulang seperti semula. Dan sampailah aku pada suara wanita itu lagi.

Aku ingin sekali bertemu denganmu, An.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Saulina dan Senja yang Bisu

Oleh : Eros Rosita

Barangkali saja senja tidak selalu bercerita tentang kenangan. Padanya, sebuah kemurungan mengendap-endap dalam kesunyian yang syahdu.

Dia bernama Saulina. Si gadis senja. Kekasih Sukma yang telah tiada. Namun, pada matanya tersimpan bermacam kenangan yang kini terabadikan dalam mata Sukma yang itu. Lelaki itu kerap mengutuk senja yang tidak tahu apa-apa. Di dalam darahnya mengalir merah yang Saulina bilang itu adalah wujud cintanya. Cintanya yang jauh lebih menyakitkan dari semua perih yang ada.

“Cinta terkadang bisa menjadi bumerang. Jangan mencintai seseorang jauh melampaui kemampuanmu,” entah suara dari mana, Sukma tidak paham itu.

Lelaki itu duduk melamun di sebuah dermaga. Di sana, senja diam-diam larung bersama kebisuan. Ombak pantai berarak dan menerjang bebatuan. Kapal-kapal dan kail-kail ikan tampak seperti pemandangan yang sudah sewajarnya ada. Sukma tidak bergeming. Pada matanya, selintas Saulina menari sebagai bayangan yang tidak dia harapkan ada namun dia merindukan kehadirannya.

“Aku mencintaimu sebagaimana aku harus mencintaimu,” itu kata-kata Sukma. Beberapa tahun lalu. Di tengah kerumunan orang, di sebuah pantai yang sebelumnya belum pernah mereka kunjungi.

Mereka berdua. Saulina duduk menatap senja hingga cahaya merah itu sudah berpindah ke matanya yang sayu. Bibir wanita itu ranum, mengatup tanpa sepatah huruf.

“Ini adalah cinta yang utuh, sebagaimana Tuhan mencipta segalanya dari kemurnian yang paling sederhana.” Sukma terus bergumam. Dia memainkan pasir-pasir pantai. Menggenggam pasir-pasir itu kemudian melepaskan genggamannya. Pasir pantai di tangannya jatuh berhamburan.
Bahkan sekalipun, Saulina tidak menolehkan tatapannya pada lelaki itu. Angin dingin berhembus dan mengenai riak rambutnya yang tergerai, jatuh menjuntai sepanjang bahu.

“Saulina, Tuhan menciptamu sebagai sosok yang tak tersentuh. Sekalipun dengan hatiku. ” Sukma meremas dadanya. Ada ngilu yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dia cegah. Baginya, cinta itu menyakitkan. Seperti menghujamkan belati tepat pada ulu hati. Tapi dia menyukai rasa sakit itu.

Senja merah. Bulan pucat mengintip dari balik gulungan awan yang ungu.
Sukma enggan beranjak dari dermaga. Bening yang menetes dari sudut matanya, larut bersama air laut yang asin. Dia terisak dalam diam, dengan caranya sendiri, membasahi ulu hatinya yang terasa perih. Semakin perih hingga dia terbiasa dengan sakit itu. Dengan perih itu.

*

“Apa cinta pernah salah memilih?” Angin bersibak membelah riak-riak rambut Saulina yang bersembunyi di balik telinganya yang langsat. Rambut itu berderai. Jatuh teratur di bahunya yang ringkih dan kurus.

Wanita itu tidak berani menatap mata Sukma. Ada getaran samar di setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya.

“Lantas siapakah yang salah?”

Saulina tidak lantas menjawab. Dia diam sejenak, membiarkan udara yang dihempaskan ombak itu menelanjangi hidungnya yang mancung. Wanita itu menunduk, memainkan pasir yang menelanjangi kakinya.
Ombak sertamerta membuat kaki itu semakin terlihat pucat dan kuyu, seperti wajahnya.

“Dia dekat denganku, bahkan aku mengetahui masa lalunya. Tetang ibunya dan tentang gadisnya yang masih membekas dalam ingatannya.” Saulina melanjutkan, “Kurasa aku jatuh cinta padanya. Tapi sekali lagi aku ingin bertanya padamu, apakah cinta pernah salah memilih?”

Sukma diam. Menelanjangi wajah Saulina dengan caranya sendiri.

“Kalau boleh memilih, aku sama sekali tidak ingin mencintainya.”

“Kenapa?”

Saulina tidak menjawab, wanita itu justru terisak. Bahunya berguncang. Sukma tahu, wanita itu merasa gelisah.

“Menyakitkan,” kata Sukma. “Tapi kau hanya perlu menikmatinya, dan menemukan hakikatnya.”

“Apa maksudmu?”

“Cinta tak pernah salah memilih.

” Sukma tidak berani menatap mata Sulina yang berair. Baginya, mata itu terlmpau indah, seperti bening kristal yang berkilau. Dan air mata itu membuat jiwa Sukma serasa ditikam sembilu yang teramat. Dia ingin menghapus air mata Saulina dan melarungkannya bersama ombak yang telah sudi membawa serta semua mimpinya untuk bisa memiiki wanita itu seutuhnya. Sukma merasa takut, bahkan untuk sekedar mengusap kepala wanita itu dan menenangkannya. Dia diam, hanya bisa menatap Saulina menyesap air matanya dalam-dalam.

*

Sore itu senja berdarah-darah. Saulina sedang mengiris bawang merah ketika melihat orang-orang berlarian menuju rumah Sukma. Teriakan-teriakan kepanikan mengacaukan gendang telinganya sehingga tidak dipeduikannya darah mengucur di jarinya yang lentik itu.  Saulina menyincing selembar jarik yang membebat tubuhnya. Jari-jarinya telanjang, langkahnya jauh lebih cepat dari biasanya. Dadanya berguncang hebat. Sungguh, dia tidak mengetahui apa yang sebenarya terjadi.

“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” Hening. Tidak seorang pun memedulikan Saulina. Mata wanita itu berkilat-kilat. Rasa penasaran dan kekhawatiran mengendap-endap di sana.

“Sukma mati. Gantung diri.” Kata seorang tua yang nampak ringkih.

Saulina jatuh pingsan. Tangannya telah terbebat warna merah.

*

Senja murung. Hanya terdengar decit pilu burung-burung yang terbang sunyi. Ombak menggulung pasir-pasir, memecah bebatuan. Tidak ada sipapun, kecuali wanita yang membebat seluruh tubuhnya dengan kain berwarna hitam itu. Mata Saulina bengkak. Wanita itu duduk seorang diri di bibir pantai. Itu adalah pantai yang sama yang sering dikunjunginya bersama Sukma. Pantai tak bernama. Tangannya dengan jari telunjuk yang hilang tengah menggenggam selembar kertas. Itu kertas yang diberikan seorang tua kepadaya. Kertas Sukma yang terselip dalam seutas jarik, jarik yang mengikat lehernya sore itu.

'Semalam aku melihatmu tidur begitu nyenyak. Kesunyian menemanimu sepanjang petang hingga pagi mencipta hari lagi, mencipta senja. Entah kenapa, senja selalu mengingatkanku padamu, Saulina. Tentang sepimu, tentang kenangan kita yang tak pernah habis untuk kutulis. Barangkali cinta selalu berakhir seperti ini. Aku cukup lama merasakan kesakitan oleh sebab cinta yang dalam. Kau gadis yang baik, Saulina. Hapus air matamu sebab aku tidak sanggup menghapusnya dengan jari-jariku. Kau tidak perlu menangis, karena matamu terlampau indah untuk membentuk sebutir air mata. Kau tercipta atas dasar cinta  yang sesungguhnya, Saulina. Yang tidak bisa kusentuh bahkan dengan hatiku sekali pun. Lantas, biarkan aku mencintaimu dengan sederhana. Dengan caraku sendiri, dengan diamku, dan dengan senja yang serta merta kukirimkan lewat kesunyian-kesunyian yang senantiasa memelukmu.'

Wanita itu terisak sejadi-jadinya.

“Kau lelaki dungu, Sukma!” Akhirnya dia berucap. Nada bicaranya serak. “Apakah cinta pernah salah memlih? Kau bodoh dan tolol, Sukma!”

Saulina meremas kertas itu dan membuangnya ke pantai.

Ombak menggulung, melarungkan segala bentuk air mata dalam kertas usang itu.

Sukma tersenyum dalam diam. Pelan-pelan mengusap mata Saulina dan menadah air mata wanita itu dengan kedua tangannya.

Hampa. Sunyi menikam dalam-dalam tanpa bisa dicegah. Ada perih yang tiba-tiba membuat dada Saulina sesak. Wanita itu meremas dadanya, membasahi hatinya yang ngilu.

“Jika aku boleh memilih, maka aku tidak ingin mencintaimu, Sukma.” Bening itu menganak sungai di pelupuk matanya yang sayu. “Kau lelaki dungu, kenapa kau tak pernah jujur padaku? Kau bodoh!” Wanita  itu terus saja mengumpat, entah pada siapa dia tidak tahu. Suaranya serak tertelan debur ombak.
Saulina menutup wajahnya dengan telapak tangan yang basah. Dengan nyeri yang dia rasakan sendiri.

“Cinta tak pernah salah memilih, sebab dia tercipta dari kemurian yang agung. Seperti air matamu.” Sukma tahu, Saulina tidak penah bisa mendengar suaranya. Lelaki itu tersenyum. Matanya menyipit meski segurat sepi menghiasi wajahnya yang pucat.
“Aku tidak menyesalinya Saulina, sebab dengan cara inilah aku bisa menyimpan cintaku. Biarkan cinta itu kekal di sana, di dalam hatiku. Sebab, iniah caraku mencintaimu.”

Senja barangkali tidak selalu bercerita tentang kenangan. Padanya sebuah kemurungan mengendap-endap dalam kesunyian yang syahdu. Sukma memeluk Saulina dengan perasaan bahagia. Senja larung bersama air mata Saulina yang masih terus menitik.

Senja memantulkan merah, membentuk segurat siluet yang sempurna. Itu adalah senja yang bisu, dan segurat siluet Saulina yang Sukma abadikan dalam air matanya.

Jakarta, 15 Juni 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

14 Agustus tinggal beberapa minggu lagi.

Itu artinya lomba tahunan yang biasa digelar dalam rangka memperingati hari Pramuka sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan lomba baris berbaris hingga latihan paskibraka untuk persiapan menjelang upacara dirgahayu kenegaraan tiga hari setelahnya.

Saya selalu suka menyebutnya gadis kecil yang diam-diam melihat keluar jendela.

Semarak menyambut hari ulang tahun Pramuka dan hari ulang tahun negara tidak sedikit pun membuat gadis itu melengkungkan seulas senyum. Gurat kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anak SMP itu tidak singgah di wajahnya yang langsat. Di wajahnya justru tergambar gurat kemurungan. Seperti sebuah sketsa samar yang biasa saya lukis di atas meja kerja.

Gadis itu tidak memperhatikan pelajaran yang diterangkan guru di depan kelas. Pandangan dan lamunannya justru berkeliaran di lapangan sekolah. Saya tahu, ia tampak mencuri-curi pandang hanya untuk sekedar melihat aktifitas di lapangan agar tidak ketahuan guru.

Sejak dulu, ia ingin sekali berbaur dengan teman-temannya. Mengikuti ekstrakurikuler pramuka setiap sepulang sekolah. Berkemah setiap sabtu minggu. Menyalakan api unggun. Berjelajah ke tempat-tempat yag belum pernah ia kunjungi. Melihat hutan, sawah, sungai dan langit. Bakti sosial di perkampungan-perkampungan. Menyanyi. Semua itu terlihat menyenangkan, bukan?
Namun keinginan itu harus ia kubur dalam-dalam. Dan semua itu harus berubah menjadi rasa yang menyakitkan.

Ibunya tidak pernah mengizinkannya keluar rumah atau melakukan aktifitas yang terlihat ekstrim. Apalagi bagi ia yang seorang gadis kecil. Gadis semata wayang di dalam rumah kecil itu.
Baginya, hidup hanyalah sekolah dan belajar. Bermain pun ia lakukan seorang diri di kamarnya. Ibunya telah membelikan banyak mainan. Dan ia bisa bermain apapun yang ia sukai tanpa merasa ada yang merebut mainannya seperti apa yang biasa terjadi di sekolah. Sebab ia bermain seorang diri. Ialah pemilik utuh mainan-mainan itu sekarang.
Tapi sesungguhnya ia kesepian.

Saya sering mendapati ia menangis diam-diam di sudut malam. Bermonolog dengan boneka-boneka sebagai satu-satunya teman bermain yang ia punya. Dan jika ia sudah merasa bosan, ia akan melukis atau menulis beberapa coretan di buku sketsa hingga ia kelelahan dan tertidur.
Setiap hari, seperti itu. Dan berlangsung bertahun-tahun hingga usianya mulai menginjak belasan tahun. Hingga sekarang keadaan telah berputar balik dan ia mulai begitu dekat dengan sepi yang selama ini memeluknya.

Dulu, ia begitu ingin mengenakan seragam coklat itu. Berbaris dengan rapi di depan orang-orang setiap tanggal 14 Agustus karena menurutnya, itu hal yang keren. Dan ibu pasti bangga melihatnya bisa berbaris.

Ah.. waktu semakin berputar..melesat seperti anak panah.

Aba-aba yang terdengar dari luar lapangan mengacaukan lamunannya. Ia tersadar, sudah sekian menit rupanya gadis itu menatap keluar jendela dan bercengkerama dengan lamunan-lamunan yang melintas di benaknya. Saya tidak tahu apa yang ia pikirkan..pun rasakan.
Raut kemurungan yang sedari tadi menyelimuti wajahnya berubah menjadi seulas senyum samar yang tersembunyi. Ia tampak mendesah. Tidak berkata apapun. Ia lantas memalingkan tatapannya kembali pada papan tulis. Mengejar kembali catatannya yang tertunda.

Sementara itu, dari luar lapangan, segala macam aba-aba memekik di bawah terik.

Jakarta, 14 Agustus 2012
Selamat Hari Pramuka :)

Published with Blogger-droid v2.0.6

Rabu, Agustus 08, 2012

Langit yang sedari tadi mendung, akhirnya berubah menjadi hujan yang sangat lebat. Rencana awal memang hanya membeli jus jeruk dan beberapa bungkus biskuit untuk Arne, tapi kemudian aku terpaksa berlama-lama di minimarket, minimal sampai hujan mulai menurunkan intensitas airnya sebab aku lupa membawa payung.

Arne menawarkan akan menjemput setelah kukirim pesan singkat yang mengabarkan bahwa aku akan datang terlambat lantaran terjebak hujan. Tapi aku menolaknya dengan halus. Gadis itu pasti sangat lelah seharian ini dan aku menyuruhnya beristirahat di apartemen.

Pujia rupanya telah mengirim pesan singkat sebelum menelfon dan mengabarkan bahwa ia telah sampai di Norwegia. Sudah lima tahun sejak hubungan kami tak lagi membaik, dan lima tahun sejak aku memutuskan bersekolah di Norwegia, aku hampir tak pernah bertemu dengannya. Mendengar suaranya lagi, mendengar tawanya, seolah ia telah lupa pada luka masa lalu. Pada apa yang disebut kesalahan yang membuatku tidak cukup berani menjalin kembali hubungan serius dengan wanita setelahnya.

Aku kemudian diam. Tercenung cukup lama sementara hujan belum menunjukkan tanda-tanda reda. Ada sebersit perasaan enggan yang mulai menyusup ke hampir semua aliran darahku. Enggan bertemu wanita itu lagi. Enggan mengorek kembali luka yang susah payah kukubur.

Arne menelfon. Suaranya tertelan suara hujan yang bergemericik.

"Len, hujannya pasti akan lama. Tidak usah menolak. Aku jemput sekarang. Lagipula, aku sudah kehausan."

Telepon dimatikan sebelum aku sempat mengucap sepatah kata pun. Arne memang seperti itu. Sedikit keras kepala. Dan justru itu yang membuatnya nampak hebat.

*

"Sebenarnya aku bisa pulang dengan hujan-hujan," kataku.

"Kau tidak berniat merepotkanku dua kali kan?"

"Merepotkan bagaimana maksudmu?"

"Pertama, aku sudah mendesain ulang interior apartemenmu. Dan kedua, aku harus menjengukmu dan menelfon setiap waktu hanya untuk mengingatkan kau minum obat." Arne cerewet seperti biasa. "Kau tahu apa kelemahanmu, Len?"

"Aku bahkan tak tahu apa kelemahanku."

"Kau sangat pelupa dan kau selali tak cocok dengan air hujan."

Aku terkekeh mendengar celotehnya.
"Ada satu lagi kelemahanmu yang tidak kau sadari."

Aku mengerutkan kening, "Apa itu?"

"Kau bahkan sama sekali tidak memahami dirimu sendiri. Terkadang, cuekmu itu bisa sangat keterlaluan."
Aku tertawa terbahak. Dengan spontan, tanganku mendarat di rambut wanita itu. Mengacaknya dengan gemas.
Hujan masih deras. Suara kecipak air yang berasal dari langkah kaki kami terdengar begitu jelas.

"Bisa kubayangkan jika kau benar-benar menunggu sampai hujan reda." Arne terlihat frustasi.

"Lain kali aku akan membawa payung."

"Semoga kau tidak lupa. Ngomong-ngomong bagaimana suasana di tempat kerja yang baru? Pasti sepi sekali tanpa aku ya?"

Arne mengerling nakal. Pipinya telah basah oleh gerimis tipis yang diterpa angin kemudian mengenai wajahnya. Arne tidak menemukan satu payung yang aku letakkan di dalam lemari karena jarang dipakai sehingga kami harus berada di satu payung yang sama. Aku merangkulnya agar ia tidak kebasahan meski nyatanya hujanlah yang menjadi pemenang.

"Apa ada yang mengirimkan krisan setiap pagi di mejamu selain aku?" aku justru balik bertanya.

"Oh iya, ngomong-ngomong soal krisan, aku baru menyadarinya di mejamu tadi. Kau memilih warna yang bagus. Aku suka."

"Itu kebetulan. Dan ingat, itu kuletakkan bukan karena kau akan datang."

"Apapun itu yang penting aku suka," kata Arne. Aku diam. Tidak menyela ucapannya karena aku tahu, aku selalu kalah jika berhadapan dengannya.

"Len, aku menerima ajakannya untuk makan malam bersama. Besok ia akan menjemputku. Apa pendapatmu?"

Aku tidak terkejut. Arne sudah sering menerima ajakan lelaki yang tengah dekat dengannya. Lalu aku sudah bisa menebak ending dari jalinan cintanya. Air mata yang tumpah di bahuku. Selalu begitu.

"Siapa namanya?"

"Lain waktu kukenalkan padamu."

Tidak biasanya Arne menyembunyikan nama lelaki yang tengah dekat padanya. Ada sesuatu yang ganjil. Yang menyeruak masuk tanpa dicegah. Entah menjelma berupa rasa apa, aku sama sekali tidak mengerti.

"Kuharap dia lelaki yang baik."

Mata di balik kacamata berframe hitam tebal itu menyipit. Senyum Arne mengembang. Selanjutnya ia tidak berkata apa-apa lagi selain membiarkan kecipak air menghiasi separuh perjalanan menuju apartemen.

Rasanya sulit membiarkan Arne pergi lagi. Hanya itu.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6