Rabu, Agustus 08, 2012

Anyelir. Awal pertemuanku dengannya, ia memperkenalkan diri sebagai Anyelir. Tanpa embel-embel apapun.  Kupikir, ia gadis yang jutek. Semula, pertemuan itu adalah pertemuan tak terduga. Belanjaanku dan belanjaannya tertukar di sebuah minimarket di dekat apartemen saat kami barusaja diterima di perusahaan tempat kami bekerja sekarang. Anyelir. Aku memanggilnya Arne sebab menurutku kosakata Anyelir terlalu susah diucapkan. Anye. An. Eli. Menurutku tidak ada yang lebih cocok selain Arne. Dan ia tidak marah dengan sapaan itu.

Arne berasal dari Bogor. Sedangkan aku dari Jakarta. Semenjak insiden belanjaan yang tertukar itu, aku lebih sering bertemu Arne di tempat kerja. Kami menjadi teman baik. Mengejar karir bersama. Bercerita apapun bersama. Makan siang bersama. Semua seolah berjalan begitu saja.

Arne ternyata gadis yang baik. Ada sedikit perasaan tak rela saat banyak lelaki yang menyakitinya. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap menyediakan bahu untuknya jika ia menangis.
Dan semakin sering ia menangis. Semakin sering ia berhubungan dengan laki-laki.
"Ada lelaki yang mendekatiku, Len."
Selepas makan steak bersama, aku meminta Arne membantu mengubah interior apartemenku agar tidak membosankan. Dan ia tidak keberatan.
Ia duduk sejenak. Mengikat rambut lurusnya yang sebatas bahu dengan japit buaya berwarna ungu. Ia menyincingkan kemejanya.

Aku meletakkan vas bunga di meja. Ikut duduk di dekatnya.
"Bukan Nick, kan?"

Arne tertawa skeptis.

"Lalu apa reaksimu?"

"Kupikir ia lelaki yang baik."

Dengan Joe. Dengan Danur dan dengan Nick, ia juga berkata demikian. Aku diam. Mendengar ceritanya tanpa bereaksi apa-apa. Aku menepuk bahunya. Arne justru menangis.

"Sekali lagi ada yang menyakitimu, aku akan membunuhnya, Arn."

Air matanya jatuh di dadaku. Ia terisak semakin dalam. Hingga suaranya tenggelam bersama isakan dan air matanya. Bahunya berguncang. Aku mengelusnya. Merasakan nyeri di dadanya yang ikut menjalar di dadaku.

Ia telah menghapus air matanya saat kakinya yang jenjang berjalan ke arah lemari es.
"Bahkan kau tak memiliki persediaan jus jeruk, Len?" Ia komplain.
Semenjak pindah cabang, aku semakin tidak memedulikan isi lemari es.

"Aku terlalu sibuk, Arne."

"Kau hanya berdalih."

"Aku ke minimarket sebentar. Jus jeruk dan beberapa potong biskuit." Aku menekan kalimatku. Arne tertawa. Dan aku menutup pintu apartemen.
Sepi. Tidak ada suara apa-apa selain debar jantungku sendiri dan suara dering telepon yang semakin melonjak.

"Hallo?"

"Len.. kau ada waktu? Bisa kita bertemu? Aku ada di Norwegia."
Aku sudah melupakannya. Tapi suara yang tidak asing itu kembali mengisi separuh pikiranku.
Suara yang berasal dari masa lalu.


Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Senin, Agustus 06, 2012

Semakin jarang aku bertemu Arne sejak kepindahannya. Arne berprestasi bagus di kantor dan dia dipromosikan naik jabatan. Sementara aku bernasib sebaliknya. Aku memutuskan pindah cabang karena beberapa hal. Bukan perkara Arne, bukan juga segala sesuatu yang mengindikasikan bahwa : aku  menghindarinya.

Arne masih sering mengirim email. Menelfon untuk sekedar makan bersama selepas lembur yang melelahkan atau sesekali datang ke apartemenku sewaktu libur dengan membawa sepaket donat coklat dengan topping kacang mede kesukaanku.

Kesimpulannya, aku dan Arne masih berteman baik. Meski secara tidak langsung dia mengatakan bahwa dia mencintaiku. Dan meski aku belum memberinya jawaban, sikap Arne tak pernah berubah. Dia masih tetap Arne yang kukenal, hanya saja sekarang dia mulai jarang membicarakan perihal lelaki yang tengah dekat dengannya.

"Kau tidak usah tegang begitu. Kenapa sih? Kau tampak tak sehat." Arne membenarkan letak garpu di piring. Ia barusaja mengunyah sepotong steak yang berlumur kecap. Arne suka memakan steak. Menu yang biasa ia padankan dengan salad. Tentusaja dengan alasan kalori atau kelangsingan atau apalah istilahnya.

Udara lembab. Aku sudah menyetel pendingin ruangan dengan pas. Liburan ini aku memilih tidak kemana-mana. Sebagai gantinya, aku merombak beberapa interior yang mulai tampak membosanka. Mengganti bunga di vas dengan krisan berwarna ungu karena tahu Arne akan datang. Semula, dia tertegun melihat beberapa barang yang berpindah posisi. Tapi kemudian reaksinya berubah seperti biasa.

Arne datang membawa sekeranjang plastik belanjaan. Karena dia bilang akan memasak untukku sebagai ganti traktiran berkat promosi jabatannya yang sempat tertunda waktu itu. Dia tergesa ke dapur, mengeluarkan semua isi belanjaan dan mulai memasak dengan cekatan. Aku membantu mencuci sayuran dan memotong beberapa butir bawang bombai sebelum Arne menyuruhku membuat jus saja karena bawang bombay ternyata membuat air mataku tumpah. Arne begitu terampil memasak. Aku memuji hasil masakannya. Dan dia belum menyadari bunga krisan yang ada di vas bunga. Belum.
"Kenapa tidak makan? Apa masakannya tidak enak?" Suaranya yang nyaring seketika membuyarkan lamunanku.

Aku tertegun sejenak kemudian memilih menyesap segelas jus apel dan mengunyah beberapa potongan donat yang ia bawa.

"Donat ini enak sekali," kataku.

"Kau tidak pernah serius, Len."

Aku mencibir. "Aku kalah tender. Dan menurutku itu kesalahan."
Arne hampir tersedak mendengar pengakuanku. Sejujurnya bukan itu yang mengganggu pikiranku. Masalah kalah tender itu sama sekali tidak mengganggu pikiranku. Ada hal lain yang kupikirkan, tapi rasanya aneh jika aku memberitahukannya pada Arne sekarang.

Dengan buru-buru, ia meminun beberapa teguk air putih yang ada di sebelah piring steaknya.
"Tidak biasanya?" Setelah itu reaksinya datar. Ia tahu desainku sempurna. Dan masalah kalah tender sama sekali tidak terbayangkan di pikirannya.

"Haha..." Akhirnya aku memotong daging steak di hadapanku. Ekspektasiku tidak berubah. Masakan Arne selalu sempurna, seperti rancangan-rancangan yang ia buat. Lembut dan penuh rasa.

Arne menatapku sekilas. Kemudian mengulum senyum. "Kau terlihat berbeda, Len. Tidak usah kau pikirkan perihal kata-kataku tempo hari lalu. Jangan sampai itu mengganggu pikiranmu. Karena aku tidak serius mengatakannya."
Ia berkata tiba-tiba saja. Tanpa kuminta. Dan ia memaksaku menghentikan kunyahan steak di mulutku untuk menelanjangi matanya yang selalu membuatku gemetar -entah kenapa.

"Lanjutkan makanmu Arne." Aku tersenyum. Ia menurut. Percakapan kami berganti topik. Dalan sekejap, ia tertawa. Menunjukkan deretan gigi-giginya yang mulai jarang kulihat sejaj semua tak lagi sama. Mata coklatnya. Sejujurnya, aku suka menatap mata coklat itu tanpa ia tahu. Namun, ada satu hal yang mengusikku. Dan aku takut, takut jika saja aku bisa kehilangan senyum dan tawa itu sewaktu-waktu.


Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Hal yang saya sukai ketika berkunjung ke rumah bapak adalah melihat-lihat kembali album foto yang tersimpan di kopor besar di atas almari.

Album foto yang sebagian telah berwarna abu-abu dan sebagian telah buram karena bercak air saat dulu tidak sengaja terkena tetes hujan akibat genteng yang sering sekali bocor.

Saat melihat kembali foto-foto itu, banyak kenangan yang seketika berkelebat, menyeruak keluar dan satu persatu peristiwa mulai terekam jelas di dalam otak saya.

Saya suka menatap foto masa kecil saya, umur balita, yang waktu itu mengenakan baju putri berwarna merah. Baju berenda yang saya sebut sebagai baju peri. Karena setiap kali mengenakan baju berenda itu, saya teringat film-film kartun masa lalu yang saya sukai. Film tentang seorang putri cantik di dunia dongeng.

Di dalam foto itu, saya berada di gendongan bapak. Sebelah bapak, ada ibu yang mengenakan rok berwarna biru. Saat usia saya menginjak belasan tahun, saya pernah mencuri foto itu dan menyimpannya dalam dompet. Lalu, membukanya jika saya begitu merindukan kehadiran mereka berdua. Sebab, foto itulah satu-satunya foto yang merekam kami bertiga. Foto yang menurut saya paling berkesan.

Saya suka menatap foto-foto masa kecil saya. Dan setiap saat melakukan itu, seketika lamunan saya kembali ke masa itu. Banyak hal yang ternyata telah terjadi di kehidupan saya. Jatuh bangun yang saya alami. Susah, sedih, menangis, tertawa. Hampir semua sudah saya alami. Dan seketika itu saya sadar bahwa waktu berputar lebih cepat dari yang saya duga ketika kita kembali ke masa lalu. Dan frasa kehidupan tak terasa tinggal separuh jalan lagi.

Di foto itu, terekam jelas sosok saya yang masih bayi, balita, remaja hingga saya yang sekarang. Tak sedikit pula, foto- foto lama tersebut yang membangkitkan kembali kenangan bersama orang-orang yang telah tiada. Dan air mata menetes di pipi saya.
Saya memang bukan Nobita yang bisa kembali ke masa lalu dengan mesin waktu yang tersimpan di laci meja belajarnya. Saya hanya manusia biasa sebagaimana umumnya. Yang hanya bisa mengenang sesuatu yang tidak mungkin terulang kembali.

Menilik kembali foto lama yang tersimpan rapi di dalam kopor bapak, telah memberikan pemahaman tersendiri dalam hidup saya. Bahwasanya hidup adalah serangkaian perjalanan. Barangkali sekarang saya masih menjadi subyek yang mengenang semua peristiwa itu. Menjadi pelaku peristiwa sebagaimana skenario yang telah Dia gariskan. Mengenang kembali orang-orang yang telah tiada melalui sebuah obyek bernama foto. Memutar slide kenangan yang terkadang saya lalaikan. Maka hidup pun akan berperan sebagaimana seharusnya. Dan, suatu saat pun, saya pun akan menjadi obyek dari kenangan itu ketika saya telah tiada. Entah siapa yang akan mengenang saya nantinya, saya tidak tahu.
Bukankah hidup memang seperti itu?
Seperti apa yang selalu bapak saya katakan. Tentang hidup yang selalu berganti fase. Tentang hidup yang sama dengan orang-orang yang tak lagi sama. Tentang hidup dan segala yang datang dan pergi. Tentang hidup dan segala yang tumbuh dan mati. Tentang hidup dan pertemuan serta perpisahan. Juga tentang hidup dan kenangan yang tidak mungkin bisa terulang kembali.

Jakarta, Agustus  2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Kamis, Agustus 02, 2012

Yang kutahu, Arne mencintai Joe.

Sampai suatu ketika nama Danur menghiasi percakapan kami siang itu. Arne yang antusias menceritakan perkenalannya dengan Danur di suatu kesempatan tak terduga, di sebuah coffee shop langganannya. Danur yang tidak sengaja menumpahkan kopi di kemeja Arne dan perkenalan itu kemudian berlanjut sebagaimana chapter dalam sinetron yang membosankan.

Lalu muncullah ekspektasi bahwa Arne juga mencintai Danur. Aku mendengar Arne bercerita panjang lebar siang itu, sepanjang jam istirahat hingga aku tak sadar bahwa kopiku ternyata sudah habis.

Menurut cerita Arne yang kudengar, mereka lalu berkencan di sebuah toko buku. Pertemuan pertama sejak kejadian di coffee shop. Pertemuan pertama yang ternyata menjadi pertemuan terakhir mereka berdua. Kenyataannya, Danur tidak mencintai Arne. Lalu dalam sekejap, aku mendengar nama Nick setelah nama Danur tak pernah lagi melintas di mulut Arne sejak perpisahan itu.

Sederhana saja, Arne bertemu Nick di sebuah kereta comuter line. Lagi-lagi, pertemuan tak terencana. Nick yang ternyata satu atap dengan Arne di tempat kerja. Nick yang ternyata adalah atasan Arne. Nick yang ternyata telah mengetahui keberadaan Arne sejak lama. Senyum Arne mengembang seperti bunga matahari yang mekar di pekarangan rumahku. Wajahnya ranum seperti buah delima yang rekah. Dia lalu bercerita perihal Nick yang sangat pendiam. Nick yang berkacamata dan Nick yang perfeksionis. Yang berwibawa. Yang tanpa sadar telah menarik perhatian Arne.
Arne terus bercerita dengan nada meluap luap. Dengan mata berbinar, dengan senyum yang terkembang.
Perasaan dan raut wajah yang sama saat dia bercerita tentang Joe dan Danur.
Aku menyimpulkan bahwa Arne pun mulai memendam rasa terhadap Nick.
Arne berubah semenjak dia bercerita tentang kedua pria itu. Bahkan ketiga, dengan Nick.
Dia semakin sering mengabaikan ajakan makan siangku dengan dalih sudah ada janji dengan salah satu lelaki yang kusebutkan tadi. Entah Joe, Danur ataupun Nick, aku tidak terlalu ambil pusing.

Arne jadi sering bercerita tentang salah satunya melalui telepon atau email, pesan singkat ataupun pertemuan-pertemuan kami yang semakin jarang terjadi. Dan entah kenapa, percakapan mengenai lelaki yang singgah di hati Arne lama-lama membuatku jengah. Aku bosan dan merasa sangat capek. Seolah, tidak ads topik lain yang bisa dibicarakan selain tiga makhluk yang tidak kutahu wujudnya tersebut. Perihal rasa cinta yang begitu meluap-luap.

Jujur selama beberapa bulan sejak Arne dekat dengan para lelaki itu dan mengalami patah hati berkali-kali, jujur, aku merasa sangat kesepian.

Aku merasa kehilangan Arne yang dulu. Arne yang selalu bercerita perihal hobi dan kesenangannya. Arne yang selalu bersemangat saat bercerita bahwa presentasinya mendapat sambutan positif dari atasan. Arne yang membuatku bersemangat mengejar prestasinya. Arne yang mulai hilang entah kemana.

Hari itu saat ulang tahun Arne, aku bermaksud memberinya kejutan. Namun yang kudapat diluar dugaanku. Ruangan Arne kosong. Dia tidak masuk kerja. Aku ke rumahnya, namun dia tidak mau menemuiku dengan alasan tidak enak badan dan barusaja istirahat. Seminggu berselang, Arne belum memasuki ruangannya. Aku menunggu. Setiap pagi aku menyiapkan bunga krisan segar kesukaannya di ruangan. Dengan harapan, saat dia masuk ke ruangannya, dia bisa menghirup aroma segar bunga itu dan aku bisa melihat kembali senyumnya yang dulu. Yang polos. Arne yang kukenal.

Kelopak krisan layu dan gugur satu-satu. Aku menggantinya dengan yang baru. Kelopak yang gugur menandakan waktu yang terhitung sejak Arne tidak tampak di kantor.

"Kau pasti yang meletakkan krisan itu. Terimakasih. Cantik sekali." Beberapa minggu berselang. Saat makan siang. Suara itu kembali mengacaukan telingaku. Arne sudah duduk tepat di depanku. Dengan rona yang kembali bersinar.

Aku ingin bertanya kemana saja dia selama berminggu-minggu itu, namun aku urungkan karena nama lelaki yang tidak ingin kudengar kembali meluncur dari bibirnya yang mungil seperti daun mint.
"Nick sudah bertunangan dengan wanita lain. Aku kembali pada Joe, tapi aku melihatnya bersama perempuan yang tidak kukenal," katanya.

Sudah kuduga. Dia pasti akan bercerita masalah itu lagi. Berulang-ulang. Padahal sesungguhnya aku ingin sekali mendengar ceritanya yang lain. Perihal kabarnya. Juga cerita-ceritanya yang lain, terkecuali lelaki-lelaki itu.

"Sudah kuputuskan sekarang, aku ingin melupakan mereka."

Aku mendongak. Merasa tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

"Aku menemukan cinta yang lain. Kau tahu?" Dia menggenggam tanganku. "Dan kurasa aku mencintainya."

Hening. Aku menatap matanya.

"Terimakasih krisannya." Dia tersenyum. Buru-buru berlalu dari hadapanku dengan menyembunyikan rona merah di pipinya.

Sesaat aku sadar, hanya aku yang mengetahui perihal krisan itu. Hanya akulah satu-satunya yang mengerti perihal kecintaannya pads krisan. Dan hanya akulah yang menyadari perihal perasaan gadis itu yang mulai berubah kepadaku. Dan, hanya aku yang tahu kenapa aku harus segera pergi dari kehidupan gadis itu.. mulai saat ini.


Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6

Rabu, Agustus 01, 2012

Sudah tiga bulan berselang.

Lelaki tua itu menatap mata malaikat yang ada di depannya. Mata itu redup, berwarna coklat keemasan yang sama dengan milik istrinya. Segelas kopi hitam tinggal separuh gelas dan mulai mendingin. Sementara teh manis dengan tutup warna biru laut di depan gadis itu masih belum berkurang sedikit pun. Lelaki tua itu diam. Ruangan dapur dengan alas tanah yang mulai kering dan berdebu itu hening. Hanya terdengar suara cicak di tembok batu bata yang nampak sibuk mengejar nyamuk.
Gadis itu menatap arakan awan putih yang memantul dari jendela dapur yang berukuran sedang dan berbercak kotoran serangga. Sementara lelaki tua itu belum mengalihkan tatapannya di mata gadis itu, mata anak semata wayangnya.

"Jadi ini prosedurnya gimana?" Lelaki itu memecah keheningan. Melumerkan beku yang sedari tadi menyelimuti mereka berdua.

Gadis itu mendongak ke arah lelaki tua itu. Matanya sibuk menatap selembar brosur berlabel kampus yang sudah memiliki nama. Ia tidak berani menatap mata bapaknya yang kelabu.

"Kalau lolos akan dapat beasiswa," kata gadis itu dengan intonasi tenang. Seolah tidak mau memicu kemelut yang berkepanjangan.

"Lalu untuk biaya hidupnya?"
Hening. Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa.

"Bapak tahu kamu ingin sekali melanjutkan kuliah. Tapi bisakah kamu lihat keadaan kita? Ibumu baru saja meninggal."

Ada ngilu. Tiga bulan lalu, peristiwa pahit menimpa keluarga mereka. Istri sekaligus ibu yang mereka cintai telah berpulang. Gadis itu ingat, masih terpatri di ingatannya wajah terakhir wanita yang berbalut infus juga selimut bergaris hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Wanita itu sempat koma beberapa minggu dan gadis itu sempat merekam air mata wanita itu ketika ia melafalkan lafadz Tuhan di dekat telinganya. Lelaki itu kembali membuka nostalgia yang berwarna abu-abu, seperti membuka kembali album-album usang yang tertumpuk di dalam koper di atas almari.
"Kalau misal tidak diizinkan, aku bisa membatalkan mengirim berkasnya besok, Pak." Gadis itu masih menunduk. Menahan sesuatu yang akan mengalir di pelupuk matanya.

Lelaki itu mengelus rambutnya dengan kasih sayang. Lelaki itu selalu melakukannya.

Katanya, "Bapak itu sedih."
Ia tatap wajah lelaki itu, dengan keberanian yang susah payah ia dapat.

"Bapak sering menangis dalam hati. Saat kamu ingin sesuatu, Bapak tidak bisa mewujudkannya. Bapak sedih." Mata lelaki itu merah, tapi tidak ada air mata di sana. Hanya bening yang menggenang di pelupuk matanya. Seperti saat lelaki itu mendapati istrinya yang tiada. Tidak ada air mata. Dan ia mengelus rambut gadis itu seperti apa yang ia lakukan sekarang. Seolah dengan cara itulah ia bisa menguatkan gadis itu dan dirinya sendiri. Dua orang sebatang kara yang hidup terpisah.

"Bapak itu pengen lihat kamu kuliah. Pengen lihat kamu seneng. Tapi Bapak tidak mampu mewujudkan keinginan kamu."

Gadis itu tahu perasaan lelaki itu. Sesak. Seperti dirinya.

"Kalau Bapak punya uang banyak, mau sekolah dimanapun akan Bapak turuti."

Hening.

Gadis itu tidak bersuara. Ia sibuk merapikan slide nostalgia di kepalanya. Perihal perjuangan orang tuanya hingga membuatnya seperti sekarang. Membuatnya selalu menjadi rangking terbaik yang mendapatkan beasiswa, yang kemudian mengantarkannya lulus SMA. Almarhum ibunya bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak honorer, sedangkan bapaknya, terpaksa harus berhenti bekerja karena rematik. Sejak ibunya meninggal, perekonomian mereka seolah terputus. Terlantung. Sementara hidup terus berlanjut.

"Aku mengerti, Pak." Akhirnya ia bersuara. Lalu, dengan tergesa-gesa, ia berlari dengan alasan perutnya yang sakit. Padahal ia menumpahkan tangisnya. Seorang diri. Mata lelaki itu terus terngiang di ingatannya. Mata yang menyiratkan kesedihan dan perasaan menyesal. Sorot mata yang sepi. Yang kosong. Yang gamang.

Air mata tumpah begitu saja. Seperti air yang terus mengguyur wajah gadis itu. Ia selalu melakukannya seorang diri, menangis seorang diri dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa setelahnya. Dan ia melakukannya terus-menerus, sejak ia kehilangan wanita yang ia cintai. Sejak ia kehilangan secercah harapan yang susah payah ia bangun. Sejak ia kehilangan semangat hidup. Barangkali saja, hal yang sama juga dilakukan lelaki itu. Tanpa gadis itu tahu. Luka itu menganga lebar. Dan mereka berdua bersikap seolah semua baik-baik saja.

Jakarta, Agustus 2012

Published with Blogger-droid v2.0.6