Jumat, Juni 15, 2012

"Apa sih menariknya kereta yang melaju pelan?" Suatu hari, Radit pernah bertanya pada Resita, tentang kebiasaan gadis itu menunggu kereta Gayabaru lewat dan menyusur rel Madiun yang lengang. Itu adalah hari Selasa. Hari dimana Radit selalu membonceng gadis itu dengan sepeda matiknya sepulang kerja dan menyempatkan diri menjemputnya dari kampus.

Resita hanya tersenyum tanpa mengucap sepatah kata pun. Meski mendumal, nyatanya Radit selalu menuruti kemauannya. Menghentikan motornya dan menunggu kereta Gayabaru lewat.

Mereka telah sampai di sebuah jalan yang tepat menghadap rel kereta api di sepanjang pematang sawah. Langit melukiskan semburat ungu di ufuk  barat. Sementara lampu-lampu jalan mulai dinyalakan, membuat bunga flamboyan di sepanjang jalan memantulkan cahaya orange yang terang.

Resita turun dari motor Radit. Berdiri dengan ujung rok yang tertiup angin. Sementara Radit, dengan ekspresi sedikit kesal akan menopang dagunya di atas motor. Mengamati gadis itu dengan matanya yang itu.

"Kau aneh," dia menyelutuk tapi gadis itu tidak peduli. "Apa sih menariknya menunggu kereta lewat dan melaju pelan?"

"Suatu saat kau akan rajin mengirim sms padaku tiap kali kereta melaju pelan di stasiunmu. Sekedar mengabarkan padaku dan mengingat kenangan ini. Bukankah kau dulu sering memberitahuku setiap kali ada kereta lewat?" gadis itu tertawa renyah. Menampilkan senyum dan deretan giginya yang rapi.

Radit tidak bergeming. Dia pura-pura tidak mendengar ucapan Resita yang mengacaukan pikirannya.

Matahari hampir tenggelam. Burung-burung senja beterbangan menyusur langit saga, seperti hendak pulang setelah seharian mencari makanan meski harus bertaruh dengan petani-petani. Jam merangkak. Sisa-sisa bajakan sawah sengaja dibiarkan begitu saja sebelum pagi mencipta hari lagi dan petani-petani itu siap membajak lagi.

Petani-petani itu pulang dengan wajah letih dan peluh yang menetes di setiap ceruk wajahnya yang terbakar matahari. Pulang dengan perut yang mulai keroncongan. Pulang dengan harapan mendapat masakan paling enak dari istri-istri mereka, seperti saat siang hari, ketika mereka mendapat bekal sederhana dan menikmatinya dengan lahap di sebuah gubuk di pematang sawah. Meski begitu, itu adalah wajah-wajah bahagia yang diam-diam selalu Resita abadikan melalui kenangan. Resita suka spotan mengambil foto petani-petani itu dengan kamera digitalnya. Dia suka melihat ekspresi mereka. Ekspresi yang dia sebut sebagai wujud dari cinta kasih, seperti kedua orang tuanya.

Gadis itu teringat kenangan masa kecilnya bersama Radit. Dia tersenyum, mengamati Radit dengan ekspresinya yang kesal. Lelaki itu menyematkan sebatang ilalang di mulutnya, menggigit-gigitnya. Itu adalah ekpresi yang Resita suka jika Radit terlihat bosan.

_KLIK_

Ada blitz kamera yang tiba-tiba mengenai wajah Radit. Dalam sekejap, Resita sudah bisa mengambil wajah Radit melalui kameranya. Dia tersenyum puas, membuat Radit salah tingkah.

“Apa yang kau lakukan barusan?” Rona merah meyembul di wajah Radit. Dia tidak suka jika Resita diam-diam mencuri fotonya. Sudah sering gadis itu mencuri gambarnya, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain pura-pura cemberut.

Gadis itu masih tertawa. Tawa lepas. Seperti angin. Angin sore itu.

"Keretanya sudah lewat. Kau mau menunggu sampai kapan lagi? Jangan salahkan aku jika aku terlambat membawamu pulang." Radit terus mendumal, bukan pemandangan yang asing bagi Resita sebab dia sudah hafal kebiasaan Radit di luar kepalanya.

"Ibu akan mengerti. Ibu sudah hafal kebiasaanku," gadis itu berkilah. Dia cepat-cepat memasukkan kameranya ke dalam tas. "Lain kali kau tidak usah menjemputku saja. Aku hanya akan merepotkanmu."

"Apa kau gila? Mana mungkin aku tega membiarkanmu pulang sendiri? Apa yang akan dikatakan ibumu jika melihatmu pulang sendiri? Ayo cepat naik,aku sudah lapar."

Namanya Raditya Wirangga. Tapi gadis itu suka memanggilnya Radit. Memiliki postur tinggi kurus dengan kacamata kotak yang senantiasa bersandar di pangkal hidungnya yang mancung, Radit digilai banyak wanita semasa sekolah dulu.  Meski dia kadang cerewet, tapi dia adalah teman yang baik dan perhatian. Rumah mereka searah tapi lumayan berjarak jauh. Resita dan Radit sudah berteman sejak kecil, sejak mereka masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Gadis itu ingat, dulu Radit adalah anak yang cengeng. Dia kerap menangis di sekolah hanya karena pensilnya patah atau karena makanannya jatuh ke kolam saat mereka berdua melihat ikan emas berenang di kolam sekolah saat jam isirahat.

Semasa sekolah dulu, Resita memang terkesan badung dan tomboy. Teman-teman yang sudah membuat Radit menangis pasti akan berurusan dengannya. Sehingga gadis itulah yang saat itu seolah berperan menjadi kakak bagi Radit. Yang melindunginya dari kejahilan teman-teman. Seperti ketika ayah Radit meninggal saat dia duduk di bangku SMP, Resitalah yang menenangkannya. Memeluknya diam-diam di sebuah sudut ruangan agar tidak terlihat air matanya yang meleleh. Sejak ayahnya meninggal, Radit memang selalu tampak baik-baik saja di depan ibunya, tapi tidak di depan gadis itu. Di depan Resita, dia terlihat rapuh dan kerap menumpahkan tangisnya di bahu gadis itu.

"Bagaimana kuliahmu hari ini?" Radit bertanya pada Resita. Motor matiknya melaju dengan kecepatan standart. Suaranya yang tertelan angin membelah kesunyian dan lamunan singkat gadis itu tentang masa lalu.

"Bulan depan aku mungkin akan sibuk. Sudah mulai PKL dan harus menyiapkan kesehatan sebaik mungkin," jawab Resita. "Kau jadi melanjutkan kuliah?" Gadis itu ganti bertanya. Sekejap saja pembicaraan mereka mulai beralih topik.

"Mungkin." Dia menjawab singkat. "Tapi mungkin aku akan ke luar kota."

Sayup sayup adzan Magrib menggema melalui toa yang dipasang tinggi-tinggi di atas mushola.

"Ibuku ingin aku menjadi berguna untuk orang lain."

"Semua orang tua pasti berkeinginan seperi itu."

Radit tersenyum menjawab komentar Resita. "Aku sudah mendiskusikannya dengan ibuku. Dan Ibu menyerahkan semua keputusannya padaku."

"Lalu apa rencanamu?"

"Mungkin aku akan ikut tes beberapa bulan ke depan. Kalau misal lolos, berarti aku harus berangkat ke luar kota."

"Kalau tidak lolos?"

"Mungkin akan melanjutkan di sini, mengambil keguruan dan mengajar anak-anak SD setelah lulus. Atau menekuni pekerjaan di Dipo lokomotif."

Resita tersenyum mendengar jawabannya.

Sejak dulu, Radit memang ingin sekali menjadi dokter. Perihal kenangan tentang ayahnya yang terlambat mendapat penanganan sehingga mengorbankan nyawanya. Sejak itu dia bertekad mengejar mimpinya, meski kondisi ekonomi kerap kali membuatnya tertatih. Tapi Resita senang melihat perjuangannya dan tekadnya juga mimpinya yang besar. Tanpa sadar, hal itu membuat Radit bertambah dewasa sedikit demi sedikit.

"Terimakasih sudah mengantar sampai rumah." Motor matiknya berhenti tepat di pekarangan rumah Resita. "Sampaikan salamku pada ibumu ya. Kelak beliau akan bangga padamu." dia menepuk bahu Radit.

Radit tersenyum. "Tidak perlu menghiburku. Sudah, sana masuk. Jangan membuat ibumu khawatir lebih lama lagi," katanya.

"Kau tidak mampir dulu?"

"Lain kali saja. Aku pamit. Salam untuk Ibumu." Radit memakai helmnya lagi dan memacu motor matiknya berlalu dari hadapan gadis itu.

Saat itu senja sudah benar benar tenggelam. Resita mengulum senyumnya kemudian mengayunkan langkah menuju rumah.


Jakarta, 15 Juni 2012


Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, April 22, 2012

Kebahagiaan itu begitu sederhana.

Ya, kebahagiaan itu begitu sederhana. Hanya saja saya sering tidak menyadarinya.

*

Malam itu seorang teman tiba-tiba menyodorkan kata 'kebahagiaan' kepada saya lewat sebuah pesan singkat yang berujung pada sebuah diskusi hangat tentang kebahagiaan. Lalu, saya ingat ada seorang teman yang pernah bertanya pada saya, 'apa kamu bahagia?'

Saya menjawab 'tidak', karena saya belum mengerti makna kebahagiaan itu sendiri. Atau barangkali saya belum menemukan makna kebahagiaan itu. Kata 'kebahagiaan' kemudian membuat saya menundukkan kepala sejenak, merenung dan kembali bertanya pada diri saya sendiri, 'apa saya bahagia?'

Dan mungkin sekarang saya harus menjawabnya, 'kebahagiaan itu begitu sederhana. Tapi saya sering tidak menyadarinya bahwa saya bahagia.'

*

Saya sering merasa tidak bahagia karena hal-hal yang saya cintai berangsur hilang dari diri saya dan mencipta kenangan yang terlalu pahit untuk dikenang. Yang kemudian membuat saya mengurung diri dan mengantarkan saya dalam dimensi yang bernama sepi.

Saya sering merasa tidak bahagia karena saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang bisa mendapatkan apapun dan berkecukupan. Saya merasa tidak bahagia ketika saya lebih mirip seorang autis pesakitan yang lebih memilih 'kabur' dari keramaian daripada berbaur. Saya sering merasa tidak bahagia karena memiliki nasib yang tidak lebih baik dari orang-orang di sekitar saya. Saya sering merasa tidak bahagia ketika timbul perasaan minder yang berlebihan saat saya berbaur dengan banyak orang.

Saya sering merasa tidak bahagia oleh hal-hal kecil di sekitar saya. Lalu muncullah perasaan tertekan yang kemudian menyeret saya ke dalam lingkup asing yang entah bernama apa. Saya sering merasa depresi secara tiba-tiba, bahkan saya sering menjadi orang asing di dalam diri saya sendiri. Orang asing yang terkadang bersikap baik-baik saja, namun tidak jarang menuntut sesuatu di luar jangkauan saya. Dan jika itu sudah terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan meringkuk di dalam kesepian. Membiarkan mereka beradu dengan diri saya dan menunggu siapa yang akan menang. Perasaan itu muncul karena hal-hal kecil yang seringkali membuat saya tidak bahagia.

Sejauh ini saya mengindikasikan kata 'bahagia' adalah untuk hal-hal dan benda-benda yang tampak, yang ada di depan mata saya, tapi tidak bisa saya raih. Namun saya lupa mengindikasikan kata 'bahagia' untuk hal absurd yang tidak terlihat, yang tidak saya sadari, seperti cinta dan perasaan bersyukur yang mengantarkan saya ke dalam kebahagiaan. Ke dalam kemurnian.

Belakangan ini saya sering berair mata karena hal-hal sederhana. Berair mata karena saya menyadari bahwa saya telah bahagia. Berair mata karena bahagia itu ternyata begitu sederhana. Saya merasa.bahagia ketika tiba-tiba mendapat sms dari keluarga yang sering saya lupakan, sms sederhana yang menanyakan keadaan saya. Saya bahagia ketika ternyata begitu banyak teman tiba-tiba menyemangati saya di tengah keterpurukan yang tidak mereka tahu. Saya bahagia ketika teman-teman ternyata mengharapkan saya menulis lagi. Saya bahagia ketika bercanda dengan teman-teman di sela-sela waktu kerja. Saya bahagia ketika ada seseorang yang menyakiti hati saya, yang membuat saya berusaha ikhlas menerima. Saya bahagia.

Bahagia dalam konsep saya adalah tidak harus mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi kebahagiaan sejati adalah ketika saya menundukkan kepala. Merenung. Dan menyadari bahwa di luar sana masih banyak sekali orang yang tidak merasa bahagia. Bahagia tercipta jika kita mengharapkannya. Saya belajar banyak dari kesakitan-kesakitan yang saya alami. Kesakitan yang membuat saya merenung, menata hati untuk menerima. Berusaha ikhlas, meluaskan hati. Memulai lagi dari nol. Menuju kepada kemurnian.

Saya bersyukur dengan apa yang telah diberikan pada saya dan saya bahagia menjadi diri saya. Itu saja.


Jakarta, April 2012

Di kamar kost tanpa jendela.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, April 17, 2012

Setelah sekian lama, hujan itu datang lagi. Tiba-tiba saja. Tanpa peringatan dan tanda-tanda. Sebuah lagu berbahasa Inggris mengalun pelan melalui winamp di laptopku dan di layarnya kursorku berhenti pada tampilan facebook. Di berandamu.


"Jatuh cinta di dunia maya itu apa mungkin bisa terjadi?"


Aku tersenyum membaca statusmu pagi itu. Status terpagi yang katamu pernah kamu buat. Tentu saja aku tahu untuk siapa kamu menulis kalimat itu.


Aku masih mengingatnya dengan jelas. Akhir bulan, tiga  tahun lalu kamu datang. Dan perkenalan itu terjadi begitu saja. Aku juga masih ingat kata-kata apa yang mempertemukan kita. Sebuah candaan berbahasa Sunda di sebuah status penulis ternama. Lalu kuberanikan diri untuk mencatat nomormu dan mengirimkan sebuah pesan singkat yang berakhiran namaku. Aku baru tahu jika kamu suka bercanda rupanya. Bahkan candaan-candaan itu masih mewarnai sms-sms yang masuk ke dalam ponselku. Candaan yang sama. Candaan milikmu yang sudah entah berapa tahun mewarnai malam-malam di atas jam tujuh, malam kepulanganmu.


Kita bersahabat sejak itu. Dan tiba-tiba saja senyum yang jarang tampak itu mulai tergambar lagi di wajahku saat namamu kembali singgah di ponselku. Meski percakapan kita hanya sebatas maya, kamu mulai ada saat itu. Kita mulai membahas apa saja. Mulai dari cerita tidak penting, bertanya kabar hingga bertukar lirik lagu melalui pesan-pesan yang terkirim itu. Hahaha, konyol tapi aku menyukainya.


"Aku harus memanggilmu apa?" tanyamu suatu malam, di sela canda seperti biasa.


"Bukankah namaku sudah jelas? Silahkan panggil apa saja sesukamu."


"Tapi aku biasa memberi nama pada teman-temanku," katamu. Lalu beberapa waktu kemudian kamu memanggilku dengan nama yang itu. Nama yang sampai sekarang masih sering kamu ucapkan saat kebetulan tengah memanggil namaku. Nama milikmu sebab hanya kamulah yang memanggilnya pada saat itu. Apa kau ingat apa nama yang kuberikan padamu? Dulu, kita sering menggunakan nama-nama itu, bukan?


Percakapan kita tidak hanya sebatas itu saja. Kamu mulai memperkenalkan blog padaku, yang selanjutnya menjadi tempat kita bertukar cerita. Setelah beberapa lama aku mengenalmu, barulah aku tahu jika kamu pun ternyata suka menulis. Hobi yang sama denganku.


Aku mulai senang membaca catatan-catatanmu di layar hitam yang dipenuhi ikan-ikan lucu. Kamu pernah bilang jika kamu menyukai warna merah, hitam dan putih. Warna yang mendominasi blogmu saat itu. Dan lagi-lagi aku tersenyum membaca kekonyolanmu.

Apa kamu masih ingat jika aku pernah bilang tulisan blogmu setipe Raditya Dika?


Ah, hujan itu kian deras saja, sayang. Teh tanpa gula kesukaanku berangsur dingin. Aku mengarahkan kursor dan mulai mengetik alamat blogmu. Getatan itu masih sama dengan tiga tahun lalu, saat setiap sore aku selalu menyempatkan diri meninggalkan jejak di 'rumah'mu.


Hatiku dingin. Kenangan itu berseliweran tanpa bisa dicegah. Lalu, di suatu malam. Di tengah canda-canda yang biasa, semua berubah begitu saja. Dalam sekejap saja. Dan aku tidak pernah tahu itu.


"Mau jadi pacarku?"


"Ah, andai saja yang ditanya itu aku," katamu menjawab candaku.


"Haha, mana mungkin? Bukankah kita sahabat? Dan selamanya akan begitu kan?"


Hening. Kamu tidak membalas pesanku selama beberapa menit, sebelum kembali namamu menghiasi ponselku.


"Kamu benar. Kita sahabat dan aku tidak mau persahabatan kita hancur gara-gara perasaan yang tidak semestinya ada." Ada emoticon senyum di akhir kalimat itu, seperti memberi penegasan dan... jawaban.


"Karena aku tahu. Jika perasaan itu ada, persahabatan kita tak akan lagi sama. Aku tidak mau itu terjadi."


Ah, tanganku gemetar. Keringat dingin perlahan menjalar. Membanjir, kemudian bermuara membentuk gemuruh yang tiba-tiba.


Kamu benar. Ada canggung yang tiba-tiba menghuni sekat antara kita. Pesan-pesan singkat dan candamu mulai jarang nampak. Aku memutuskan berganti provider telepon dan mulai menemukan duniaku. Aku bertemu teman-teman baru di dunia maya. Teman-teman yang mempunyai hobi yang serupa denganku. Tanpa sadar, dunia itu membuatku mengabaikanmu. Aku mulai jarang mengunjungi berandamu. Aku mulai jarang meninggalkan jejak di rumahmu dan mulai jarang menyapamu lewat media-media tempat kita bertukar cerita.


Dunia kita seperti terhalang sekat yang entah bernama apa.


Ah, rindu itu masih ada, sayang.

Rindu ketika kita sering bertukar sapa. Rindu ketika diam-diam aku mencuri waktu di sela sela kerjamu hanya untuk sekedar mencuri suaramu yang dulu tidak pernah terdengar sebab katamu kamu malu dengan suaramu yang itu. Aku rindu ketika kamu mengatakan suaraku lebih menyerupai bapak-bapak, sementara aku suka menyebut suaramu mirip ibu-ibu kompleks yang suka bergosip.


Ah, aku rindu ketika kamu tiba-tiba saja menelfonku malam-malam sambil menyantap mie ayam yang kamu beli sepulang kerja dan kamu bilang aku hanya tertawa saja sepanjang percakapan satu jam lebih itu. Padahal kamu tahu aku berusaha keras memelankan suaraku, takut nenekku akan marah mendengarku bercanda malam-malam. Padahal kamu juga tahu, aku berusaha keras menahan panas yang tiba-tiba saja menyerang wajahku. Panas yang bisa membuat mukaku berubah sangat merah.


Aku rindu ketika sepotong pagiku diwarnai pantun yang kamu kirimkan untukku sebagai pengawal hariku saat itu.


Kenangan itu....


Cerita-cerita itu....


Apa kamu masih memerangkap kenangan itu sebagaimana aku selalu memerangkapnya di mataku?


Hujan itu semakin deras saja, sayang. Ada bening yang tertahan di mataku. Kusesap teh yang mendingin itu sebagaimana aku menghapus bening di pelupuk mataku. Aku menghela nafas sejenak. Berusaha menenangkan gemetar yang tiba-tiba menjalar.

Mendung semakin pekat dan mataku belum beralih membaca postingan-postinganmu terdahulu.


Ngilu.


Jakarta, 10 Februari 2012

Di sebuah kost yang pengap. Di sela-sela menunggu kabar.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Jumat, April 13, 2012

Welcome to the night kingdom






Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, November 23, 2011




Parni

Oleh : Amerul Rizki dan Eros Rosita

 

Semula, mereka adalah makhluk mengerikan bermata sipit yang ujungnya naik ke atas. Berdahi lebar dan terjal oleh kerutan. Terkadang bersuara petir, bahkan saat tengah malam buta. Kenapa? Paling-paling karena gadis itu tiba-tiba terbangun, lalu membuka pintu ajaib kemana saja yang akan membawanya pergi dari kandang pengap bacin itu.
Tapi kali ini, mereka berubah wujud menjadi makhluk sejuk. Meski redup, tapi tak tampak adanya makhluk mengerikan yang pernah tinggal dalam mata mereka. Sebabnya apa? Gadis itu tidak tahu. Yang ia tahu, mereka berubah setelah melihat perutnya.